Sunday, May 10, 2020



P a g i


Pagi belum menampakkan cahaya sinarnya
Kau hadir lebih dulu

Pagi belum menampakkan wajahnya
Kau mekar lebih dulu

Pagi belum menampakkan aktifitasnya
Kau berkembang lebih dulu

Pagi belum menampakkan ronanya
Kau semburkan aroma lebih dulu


Saturday, May 9, 2020



Proses Menerbitkan Buku Ajar
Bersama:
Joko Irawan Mumpuni





Hari ini Jum’at, 8 Mei 2020 pukul 13.04 WIB kuliah online dimulai. Moderator dipimpin oleh Mr. Bams. Seperti biasanya aturan diberikan bagi peserta yang bertanya, pertanyaannya dikirim ke no 088809405468, satu chat, nama, pertanyaan dan pertanyaan hanya satu. Setelah itu Mr. Bams mempersilakan narasumber menyampaikan materi kuliah hari ini.

Narasumber mengawalai dengan mengucap salam "Assalamu alaikum wr.wb, selamat siang semua. Terima kasih sudah mengajak saya untuk bersilahturahmi kembali dengan para sahabat di acara kali ini. Saya merasa tersanjung. O..ya saya sudah siapkan paparan awal sebagai pengantar diskusi dalam bentuk video kecil durasi 25 menit, mohon bisa disimak dahulu ya. Sambil jalan ya, menunggu upload akan saya jelaskan lewat potongan gambar dan audio."





Kalau diperhatikan gambar di atas seharusnya diawal punya motivasi yang kuat untuk jadi penulis sampai jadi. Jangan hanya di bawah tapi betul-betul level paling atas.





Kalau kita perhatikan proses diawali dari penulis yang punya naskah sampai yang ujung sana yaitu buku yang ada dipasaran sampai dibaca oleh para pembacanya. Nah prosesnya itu yang bertahap. Proses penertbita itu dimulai dari gambar besar yaitu proses dengan alur 4 pelaku (penerbit, penyalur, pembaca dan penulis).
Perhatikan gambar berikut, naskah sudah jadi dan dikirim kepada penerbit dan proses pertama yang dilakukan penerbit menilai naskah tersebut untuk diputuskan apakah naskah tersebut bisa diterbitkan atau tidak.





kalau kita perhatikan gambar itu asumsikan saja naskah tidak dikembalikan tetapi diterima penerbit. Apa yang akan dilakukan penerbit yaitu memberitahu bahwa naskah tersebut akan kami terbitkan. Oleh karena itu penerbit pasti memberikan surat pemberitahuan bahwa naskah tersebut akan diterbitkan sekaligus yang pertama meminta soft copy, penulis atau kelompok penulis diminta untuk menandatangani surat perjanjian. Pada tahap ini kemudian penerbit itu pasti menunggu sampai naskah berbentuk soft copy datang dan diterima oleh penerbit.



Apabila kita sudah menyerahkan softcopy naskah lengkap maka selanjunya penerbit langsung bisa memprosesnya. yang pertama adalah mengedit naskah tersebut. jadi naskah itu akan diedit meskipun ditulis oleh para penulius dengan teliti tapi kami tetap edit dari sisi bahasa. Setelah di edit kemudian disetting (ukuran, hiasan, ketebalan, fornt) sekaligus secara faralel ada tim yang lain membuat cover buku. Tentunya cover buku dibuat sesuai target marketnya. Selanjutnya dicetak satu seperti buku yang seakan-akan akan terbit atau persis terbit yang disebut naskah pruff/dami. naskah ini dikirim ke penulis untuk dikoreksi akhir supaya tidak ada kesalahan fatal jika dicetak. Pertanyaannya boleh tidak setelah naskah yang sudah pruff ini dirubah total? ya boleh-boleh saja. tetapi akan memakan waktu yang lebih lama buku itu akan terbit maka kadang-kadang buku itu sudah di nanti oleh calon pembaca untuk membelinya. Oleh karena itu kalau mengirim naskah sebaiknya memang naskah yang sudah jadi, sudah dipertimbangkan masak-masak jangan sampai setelah diedit, di setting dan cover sudah jadi kemudian dirombak total maka itu akan menyulitkan penerbit.

Setelah naskah dami tadi dikoreksi, dicoret dan dikembalikan kepada penerbit oleh penulis. Dari dasar coretan penerbit melakukan koreksi dikomputer persis seperti kemauan penulis makan akan dibuat sebuat film. dan film itu ditempel pada plat cetak, maka plat cetak akan dicetak lembar demi lembar. dan masuk mesin lipat dan dipotong dan dibending.

Apa yang penulis peroleh?



Ada 4 indikator jika penulis berhasil:
  1. Penulis akan mendapat kepuasan yang sangat amat dalam karena buku itu sangat bermanfaat orang lain.
  2. Penulis mulai terkenal, oleh siswa, guru dimana-mana di tingkap penyebaran buku tersebut.
  3. Karier penulis akan meningkat dan bisa untuk mengurus kepangkatan.
  4. Royalty penulis semakin besar berarti penulis tersebut semakin berhasil.

Indikator tersebut akan sukses atau tidak sebetulnya diawal sudah kelihatan sekali. Penerbit itu menilai naskah itu yakin sukses itu bukan pada editorial. Editorialnya itu cuma 10%. yang paling besar itu adalah peluang potensi pasar kemudian keilmuannya. Sedangkan reputasi penulis tahap awal hanya mempengaruhi 10% dari penilaian itu. Jadi kesimpulannya bahwa buku yang sukses itu adalah buku yang laku, buku yang pasarnya besar. Perhatikan level materi dan lebar pasar berikut.




Naskah seperti apa yang diterbitkan?



Ciri-ciri buku yang peluang pasarnya banyak?
1. Temanya tak populer tapi penulis populer
2. Tema populer tapi penulis tidak populer
3. Tema populer dan penulis populer

Yang ditolak mentah-mentah adalah jika tema tidak populer dan penulis juga tidak populer. Tidak ada satu hal pun yang bisa dijual disana.

Mengetahui tema populer atau tidak?


Lihat gambar yang ditampilkan dari google trend, kemudian ketik suatu tema tertentu akan kelihatan grafisnya. cenderung naik, cenderung turun atau stag. Kalau semakin turun biasanya penerbit berpikir dua kali untuk menerbitkan bukunya tidak ada trendnya sama sekali. jadi sebaiknya lihat digoogle trend, punya peluang atau tidak?

Reputasi penulis diperhatikan dari karya yang dibuat baik buku maupun jurnal. Kemudian karya tersebut sudah banyak dibaca orang atau tidak? Biasanya si penulis sudah punya minimal disitasi 2000 kali. Bisa dicek dari Google Cendikia, data-data yang lain, dan sosial media.

Kalau bicara proses penerbitan tidak lepas dari jumlah cetak yang disebut oplah. Kalau Oplah semakin besar semakin bagus.

Proses administrasi naskah dipenerbitan



Administrasi itu mengammbarkan staus naskah itu sampai mana. Kemudian perhatikan royalty. Royalty itu diterima setelah buku itu terbit dan diedarkan 6 bulan petama, 6 bulan kedua dan seterusnya. Royalty kepada penulis persemester.

Demikian paparan dari Pak Joko. Kemudian dilanjut sesi tanya jawab.
P1
Nama : Agnas setiawan, asal Majalengka. Saya guru geografi, blogger juga. Tahun lalu pernah terbitkan buku ajar SMA secara indie. Kalau saya mau coba terbitkan mayor apakah isinya harus diubah atau boleh sama seperti yang diterbitkan sebelumnya?
Jawaban:
Kalau buku itu sudah pernah meiliki ISBN berarti buku itu sudah legal terbit, nah kalau diterbitkan kembali makan itu namanya CETAK ULANG, kalau akan diterbitkan sebagai buku baru maka harus direvisi total. N

P2
Assalamualaikum Om Joko yang budiman, perkenalkan saya Syukri dari SMAN UNGGUL Dharmaraya Padang, yang mau saya tanyakan:
1. Seperti apa itu naskah dan apa aja isinya.
2. Seperti apa penulis pemula yang dilirik oleh penerbit mayor.
3. Mohon Om Joko ulas sedikit tentang gaya selingkung.
Sekian wasalam
Jawaban:
1. Ini naskah lengkap ya Om
2. Penulis pemula yang dilirik penerbit mayor adalah penulis yang punya naskah bagus yang marketeble.
3. Untuk gaya selingkung, akan saya emailkan detailnya ya Om, mohom alamat emailnya. N

P3
Assalamualaikum pak Joko saya Rita dari Kab. Jembrana Bali, senang sekali bisa mendapatkan materi dari bapak , yang ingin saya tanyakan dari pemaparan bapak ada slide yang menyebutkan 4 kriteria naskah yang utama di terbitkan yaitu tema populer dan penulis populer, sedangkan untuk tahap sekarang kami masih berada di penulis yang belum populer. Pertanyaannya:
1. Apa yang harus kami lakukan agar tulisan kami bisa diterima di penerbit ANDI
2. Jenis tulisan seperti apa yang penerbit ANDI inginkan
Jawaban:
1. Keduanya Populer (thema, nama penulis) tapi salah satu saja nggak papa, oleh karena itu tulislah buku yang themanya populer dan dibituhkan masyarakat banyak.
2. ANDI menerbitkan thema apa saja asalkan kami perkirakan buku itu akan laku. N

P4
Salam. Ini sangat menarik Bapak.
Harapan penerbit adalah penulis mendapat untung sebesar-besarnya. Ini persis sama dengan harapan penulis.
Bagaimana agar tulisan/naskah kita bisa diterbitkan oleh Andi? Apakah tulisan tentang kegiatan menulis (kumpulan materi/resume) bisa diterbitkan Andi? Terima kasih. Isminatun, Sukoharjo
Jawaban:
Model tulisan itu bisa saja diterbitkan, tetapi sangat tergantung dari kumpulan tulisan apa, resum tentang apa dari forus apa?, dari situ harus bisa disimpulkan kalau buku itu akan laku. N

P5
Nama: Herlina Dwi Kurnia
Pertanyaan: Apakah setiap buku harus dicetak atau cukup pemasarannya secara e-book?
Jawaban:
Saat ini dua-duanya, cetak dan ebook. N

P6
Fatimah S.S.i Alhamdulillah terima kasih banyak atas ilmunya, bagaimana dengan nasib naskah-naskah yang tidak lolos saat di nilai, terima kasih
Jawaban:
Nasibnya akan tragis jika penulisnya putus asa jangan putus asa ya, terus komukasi dengan penerbit manapun agar ada solusi naskah itu tetap terbit. N

P7
Saya bu Beni dr Bojonegoro, terima kasih atas pencerahannya terkait penerbitan buku, mohon membagi pengalaman di forum ini, untuk buku pelajaran Bahasa Inggris, gambaran konten seperti apa yang paling laris? Selain syarat harus sesuai silabus tentunya, terima kasih
Jawaban:
TOEF, dan sejenisnya, atau buku bahasa inggris untuk profesi tertentu. N

P8
Kontrak saya dengan penerbit indie tidak dilanjutkan. Kalau misal saya mau masuk ke mayor, apakah nanti di penerbit mayor itu akan cetak ulang atau di aturan harus direvisi total?. Kalau total itu 100% isinya memamg harus baru at bagaimana ya?
Jawaban:
Kalau cetak ulang maka harus ada surat pengakhiran kontrak dengan penerbit lama, jika revisi total bis dengan penerbit baru dengan kontrak baru. N

P9
Assalamualaikum, Terima kasih Bapak, materinya sangat menarik. Saya Munandar, dari Kab. Sumba Timur.
Saya pernah diminta oleh penerbit melalui teman saya untuk membuat buka bank soal matematika SMP, sistemnya jual putus. Jadi saya hanya mengirimkan softfile nya saja, dan ternyata tidak dicetak biodata saya sebagai penulis.
Pertanyaan:
Apakah saya dapat mengirimkan draf itu kembali ke penerbit lain? Thank
Jawaban:
Selama tidak ada perjanjian yang mengikat dengan pihak manapun bisa diterbitkan oleh penerbit mana saja. Sayang sekali ya naskah kok dijual putus, semoga harganya layak ya. N

P10
Selamat siang pak, terimakasih penjelasan materinya tentang penerbitan buku ajar, bagaimana dengan RPP? Rencana pelaksanan pemvelajaran,a pakah bisa diterbitkan juga, karena sebelumnya itu ada kurikulum 75 itu dulu banyak, yang KK 13 ini masih belum banyak,apakah ada peluang? Terima kasih, Lusia Curup, Bengkulu.
Jawaban:
RPP biasanya dibagi gratis ke guru yang telah memakai buku pelajaran utama, tentunya gratis dari penerbit yang buku utamanya dipakai. N

P11
Assalamualaikum pak joko. Andy Muhtadin Beltim-Babel Bertanya
Nah kami ini menulis dari nol, didunia maya tulisan nol, grup ada tapi sedikit, riwayat menulis no, memang layak dapat nol. Tetapi kira-kira seberapa peluang penulis pemula dapat bertahan di posisi ini, tolong tipsnya agar dapat terus naik tangga kesuksesan?
Jawaban:
Jangan selalu diposisi Nol ya Pak, dulu semua penulis hebat mulai dari Nol, yang membuat mereka berhasil karen a pantang putus asa, dan tidak berhenti menulis. penting bergaulah dengan penerbit sehingga tahu apa yang dimau penerbit. Semangat....N

Sambil menunggu penanya yang lain, Pak Joko memberi TIP menulis dengan cepat.
Agar kita bisa menulis teratur dengan target waktu yang ditentukan, cepat dan aman maka kita harus tertib melakukan SOP langkah demi langkah untuk memulai menulis buku. Berikut langkah-langkah itu.




Membuat sinopsis buku yang ditulis dihalaman berlakang cover buku yang berisi konten buku secara singkat, prasyarat untuk pembaca buku, konten tujuan buku itu dituli, konsumen yang dituju.


Tentukan tujuan penulisan buku lebih detail dan mendalam. Kemudian buat kerangka karangan berupa daftar isi.




Membuat tujuan manfaat buku ini jika dibaca oleh pembaca. Lebih dalam dan luas. Harus diterjemahkan lebih dalam lagi berupa angka-angka yaitu sasaran pembacanya. Kira-kira pesaingnya ada berapa buku. Apakah buku ini akan menang dari pesaing itu.



Penulis harus bisa menjelaskan tujuan buku itu untuk siapa dan dimana.


Penulis harus membuat tentang penulis. Karena buku yang Ber ISBN itu akan di dokumentasikan negara. Jadi jangan lupa buat Civie singkat tentang penulis, kompetensi penulis, latar belakang pendidikan, prestasi penulis, profesi penulis. Tetapi hal-hal konten civie itu yang ditulis sesuai dengan tema yang ditulis.


P12
Dwi Mulyanti dari SMKN 1 Kademangan
Pertanyaan saya
Dunia wirausaha saat ini sedang trend,namun anak-anak kami yang SMK ini belum besar motivasinya
Kira-kira materi atau naskah tulisan yang menarik untuk kalangan remaja usia SMK ini apa ya pak? Biar mereka makin tertarik dengan wirausaha
Terimakasih pak
Jawaban:
Buku kewirausahaan untuk SMK sudsah banyak kita temui termasuk dari Penerbit ANDI, namun buku buku tersebut diterbitkan seseui dengan kisi kisi kurikulum yang tidak ada unsur motivasi sebagai wira usaha. Nah akan sangat baik jika ibu nulis buku pengayaan untuk SMK yang berisi motivasi menjadi pengusaha. N

P13
Selamat Sore, Bpk. Joko Yth. di proses awal pengiriman naskah, apa saja yang terkandung dalam naskah yang terkirim ? Apakah hanya beberapa bagian atau utuh seluruhnya. Proses penilaian naskah perlu waktu berapa lama ? Trima kasih.
Jawaban:
Tidak usah lengkap dulu tidak apa-apa. Daftar isi, Sinopsis dan dua bab awal sebagai contoh. Dikirim berupa hardcopy ya.


Demikianlah diskusi yang berlangsung. Diakhir kuliah Pak Joko menutup dengan memberi pertanyaan sebagai berikut:

ADA 5 BRUNG BERTENGGER DIDAHAN POHON, 3 DIANTARA BERKEHENDAK UNTUK TERBANG, BERAPA SISA BURUNG YANG MASIH BERTENGGER?

Jawabnya direnungkan saja..
Ada yang bisa menjawab? Silakan tulis dikolom komentar ya.










Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri


Friday, May 8, 2020



Menulis dengan 4R
Bersama:
Farrah Dina, M. Sc


Rabu, 6 Mei 2020 tepat diramadhan ke 13 perkuliahan tetap dijalankan. Diawali dengan perkenalan narasumber. Berikut paparan perkenalannya.

Perkenalkan, saya Farrah Dina pendiri Tangga Edu. Terima kasih atas kesempatannya hari ini. Saya menulis 20 judul buku, berkaitan dengan pendidikan untuk guru & orang tua serta buku-buku bergambar untuk anak. Berikut sudah saya siapkan khusus untuk grup ini tautan youtube untuk sharingnya. Kemudian narasumber memberi link tentang materi hari ini yang bertema "Menulis Buku, Catatkan Sejarah: Menulis dengan 4R" Berikut linknya klik disini

Peserta dipersilakan simak bersama dulu dan nanti silahkan jika ada yang ingin didiskusikan. Tidak lamakemudian Om Jay mengubah setelan grup untuk mengizinkan hanya admin yang dapat mengirim pesan ke grup ini.

Mari menulis dengan 4R. Apa itu 4R?
  1. Renjana
  2. Renjana adalah passion. Passion itu adalah sesuatu yang amat sangat menarik, sesuatu yang menjadi pemikiran kita, sesuatu yang menjadi hal-hal jika kita mengunakannya terasa lebih mudah dan menyenangkan. Apapun itu mulailah dari sesuatu sesuatu yang memang dikuasai dengan baik karena akan mengalir kata-kata dengan mudah. Tentukan renjana Cara paling mudah untuk termotivasi menulis adalah: Pertama tentukan renjana dulu.

  3. Rutin
  4. Rutin bukan hanya rutin menulis tapi yang lebih penting lagi rutin membaca. Karena rutin membaca menjadi sesuatu otomatis apapun yang kita baca, kita lihat, kita alami akan terframe dan akan termotivasi untuk menulis. Makin banyak membaca akan penuh kantong-kantong membaca dikepala kita yang ingin dikeluarkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan membaca kosakata membaca tidak sama dengan kosakata lisan. Kosakata membaca kecendrungan berkaitan dengan kosakata menulis tidak demikian dengan kosakata lisan. Ketika kita mendengar kita akan mengungkapkannya kembali. Sedangkan membaca, kita ada keinginan untuk menbuat bentuk tulisan yang lain. Untuk membentuk rutinitas menulis itu bisa dimana saja, kapan saja dan tentang apapun,

  5. Review
  6. Review itu adalah setelah kita punya kumpulan maka review-review. Proses terpanjang adalah reviuw. Jadi pada saat pertama menulis draf segera tuliskan semua yang ingin ditulis. Tidak perlu diedit, tanpa melihat nama tokoh, alur, pristiwa biarkan ia mengalir. Nanti saat review itulah baru kita lakukan hal-hal tersebut. Seperti mengedit memperhatikan alur, tokoh dan lainnya.

  7. Ruang Bagi Pembaca
  8. Ruang bagi pembaca kita harapkan adalaah fedback negatif karena itu yang lebih penting dan bisa kita perbaiki. Yang penting pada ruang pembaca jangan sampai menghilangkan jati diri penulis.   
Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Berikut sesi tanya jawab itu.

Pertanyaan pertama
Apakah kita harus melalui tahapan 4R itu agar buku yang diterbitkan berkualitas?
Nani Bogor Jawa Barat
Jawaban:
Bu Nani yang bersemangat, tidak selalu seperti itu. Ini dirangkum dari pengalaman-pengalaman penulis yang hebat yang sudah menerbitkan banyak buku dan disukai. Mereka akan menulis yang betul-betul sesuai dengan renjananya lalu terbiasa menulis (rutin). Pada awal menulis buku, jangan kita dipusingkan dengan editing & lain-lainnya yang nanti justru akan menghambat jadinya sebuah naskah. Tapi setelah itu, baru dilakukan review berulang (dan ini proses panjang). Seringkali bahkan naskah final sangat berbeda dr naskah awalnya... Kekuatannya di review ini. Untuk ruang pembaca, tujuan kita menulis adalah untuk dibaca jadi perlu mendengar masukan dari pembaca juga. Tapi jangan sampai kita juga hanyut menulis hanya untuk memenuhi kebutuhan pembaca, nanti tidak timbul kebahagiaan. Selamat terus menulis.

Pertanyaan kedua:
Ini Bu Beni Bojonegoro, tanya bagaimana teknis/langkah mengubah tulisan dr best practice menjadi tulisan populer? terima kasih
Jawaban:
Ibu Beni dari Bojonegore yang saya hormati, pertanyaan yang sangat menarik. Banyak buku-buku yang sekarang best seller adalah buku-buku ilmiah tapi disajikannya dalam bentuk populer tidak penuh dengan data-data yang memusingkan. Sebaiknya ibu membaca contoh buku-buku populer yang berdasarkan pendekatan ilmiah. Dari buku-buku ini yang saya perhatikan mereka akan membahas "Permasalahan" lalu "jawabannya" dengan sedikit-sedikit memasukkan teori-teori pendukung. Jadi yang dibahas bukan teroinya, ada unsur emosi kuat yang dibangun sehingga ada konektivitas dengan pembaca.
Beberapa contoh buku ilmiah dibuat populer (maaf yang terbayang saat ini buku-buku terjemahan), seperti: Good to Great (penelitian dari 500 perusahaan sukses dunia, The Miracle of Endorphin (pendekatan psikologis untuk metode pengobatan), The Leader in Me (praktik-praktik di sekolah yang menerapkan 7 Habit).
Bagaimana menampilkan "voice" pada buku populer atau membangun emosi, misalnya dengan memasukkan isi wawancara, atau data-data non formal yang lebih hidup.

Pertanyaan ketiga
Assalamualaikum. Saya Siti Fatimah dari Mojokerto.
Sebagai pemula saya masih bingung menentukan passion saya dimana. Bagaimana kita mengetahui passion kita dengan mudah.
Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb..
Ibu Fatimah, tidak sedikit orang yang merasakan hal yang sama dengan ibu. Memang ada orang-orang yang dari awal sudah tau apa bidang menulis yang akan digelutinya dan ada juga yang butuh waktu. Cara paling ampuh adalah dengan terus menulis, nanti akan kelihatan kecenderungan kita. Bahkan, dengan mengumpulkan bank tokoh, situasi, pengalaman ke dalam bentuk rekaman/tulisan pun nanti akan terlihat apa yang menjadi renjana kita. Kita bisa lihat dari bank yang sudah kita kumpulkan, apa sih yang menarik untuk kita yang mendorong kita untuk mengungkapkannya, nah itulah renjana kita. Cara lain paling mudah mengetahuinya adalah dengan melihat mana tulisan yang paling cepat saya selesaikan dan kita merasa mudah.

Pertanyaan keempat
Assalamualaikum, saya Warsih dari Kota Tangerang. Mau menanyakan tentang pembuatan buku anak-anak. Misalnya kita menulis berdasarkan apa yang kita lihat, kemudian kita tambahkan dengan khayalan dan imajinasi kita boleh tidak. Jadi tidak pyur fiksi. Nah yang sperti itu termasuk kategori buku apa Bu. Trimakasih
Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb....
Ibu Asih pecinta buku anak, boleh sekali memasukkan imajinasi ke dalam buku anak. Justru imajinasi itu kekuatan dari buku anak. Seperti binatang berbicara, anak pergi ke ruang angkasa, berteman dengan robot, itu adalah imajinasi. Yang tidak boleh adalah takhayul dan imajinasi yang mengandung kekekrasan. Saya pribadi keberatan dengan anak durhaka menjadi batu, siasat membuh raksasa seperti dalam legenda asal usul Danau Batur, dll. Sikap jahat akan ada akibatnya, dan bisa dalam bentuk imajinasi tapi sebisa mungkin berkaitan dengan perbuatannya & tidak berlebihan.

Pertanyaan kelima
Assalamualaikum... Saya ika siswati dari kota tangerang mau bertanya apa yang ibu lakukan sehingga dapat menemukan passion ibu yaitu menulis buku anak?
Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb... Saya menemukan renjana saya berawal dari pendidikan saya di Amerika & Jepang yang di mana mereka sangat serius memikirkan buku anak. Tidak halnya di Indonesia. Sebenarnya ini juga berawal dari kebutuhan, saat di Jepang anak saya masih TK dan akan kembali ke Indonesia masuk SD. Jadi saya harus mengajarkan membaca. Sy minta dikirimkan buku2 dari Indonesia tapi saya tidak puas. Lalu saya menulis buku sendiri dan ternyata itu menyenangkan buat saya dan saya merasa bisa memberi solusi pada permaslaahan yang ada. Selanjutnya saya juga melakukan penelitian di bidang membaca usia SD, dan salah satu hal yang dibutuhkan adalah buku anak berkualitas. Di pasar, buku anak berkualitas itu biasanya harganya mahal. Ini yang menjadi motivasi besar, menciptakan buku-buku berkualitas dengan harga terjangkau. Ini yang menjadi motivasi terbesar dan itulah passion saya. Walaupun saya tetap memaksakan diri untuk terus menulis genre lain. Karena rutinnya saya menulis buku anak dan pendidikan, saya agak meninggalkan bentuk tulisan ilmiah. Pada saat saya mengalami ini, saya "memaksa" diri saya untuk mengirimkan rencana penelitian utk mendapat beasiswa. Denagn tenggat yang jelas akan jadi motivasi untuk kita. Ini juga perlu dilakukan. Alhamdulillah dengan research plan yang saya buat, saya bisa diterima di universitas di Jepang.

Pertanyaan keenam
Pertanyaan buat Bu Farrah
Ibu masih muda sekali, dan tentunya bersemangat, apa yang melatarbelakangi ibu mendirikan Tangga Edu dan juga bisa menjadi penulis. Terima kasih. Rachmi Banyuwangi
Jawaban:
Ibu Rachmi yang juga pastinya bersemangat, jawabannya sama dengan pertanyaan kelima ya bu. Yang menjadi motivasi saya adalah bagaimana memberi manfaat sebesar mungkin untuk negeri Indonesia tercinta ini. Sama dengan Bapak & Ibu semua.

Pertanyaan ketujuh:
Selamat siang ibu Farrah, Bagaimana memanage 4R ini agar menjadi sebuah kesatuan utuh untuk saling melengkapi dalam menulis? Yulius Roma-Tana Toraja. Terima kasih
Jawaban:
Pak Yulius dari Toraja, LAKUKAN. itu kunci utamanya pak. Dengan melakukan maka saya yakin Bapak akan menemukan polanya tersendiri. Yang perlu diingat adalah di awal, tulis dulu apa yang mudah untuk kita, tapi perlu dipaksakan juga agar menjadi rutinitas. Dengan begitu kita akan sangat terbiasa. Saat ingin dipublish ke orang lain, maka perlu dilakukan review berulang-ulang. Jangan lakukan review saat menulis di awal, karena nanti tidak akan jadi karya krn kita berkutat dengan banyak hal. Selamat menulis

Pertanyaan kedelapan
Assalamualaikum Bu Dina, saya Candra dari Langkat Sumatera Utara. Terima kasih formula 4R. Sangat membantu untuk saya sebagai yang baru belajar untuk menulis. pertanyaan saya bu, menurut ibu apakah seorang penulis harus fokus pada satu passion atau genre tulisan agar tulisannya betul-betul baik dan memang ada tidak pengaruh taste/rasa tulisan seseorang yang suka mengerjakan dua tulisan (fiksi dn non fiksi) secara bersamaan? Terima kasih bu .
Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb...
Pak Candra dari Langkat yang bersemangat menulis, ini menarik sekali untuk didiskusikan... Sebagai awal, tulis dulu sesuatu yang mudah bagi kita, yang sesuai dengan renjana kita, yang kita senang saat menuliskannya. Ini gunanya untuk memberi reward terhadap diri sendiri. Dengan jadinya naskah yang kita sukai, itu akan menjadi bahan bakar bagi kita untuk terus menulis. Jika di awal kita sudah tidak cukup motivasinya, maka akan terhmbat, Tulislah sesuatu yang benatul2 isi kepala atau hati kita yang ingin disampaikan ke orang lain.

Selanjutnya, kita menyesuaikan diri dan bisa menulis dengan genre apapun, tentu dengan latihan dan pembiasaan. Bahkan kita pun harus bisa menulis sesuai dengan kebutuhan pembaca. Ini yang nantinya perlu dikuasai setelah kita menguasai sedikit hal yang menjadi kekuatan utama kita. Semangat menulis

Pertanyaan kesembilan
Nama : Munandar, Kabupaten Sumba Timur
Yth. Ibu Farrah, bagaimana cara awal untuk mengetahui passion seseorang? Terima kasih
Jawaban:
Pak Munandar dari Sumba, jawabannya sama dengan pertanyaan no. 3 ya pak. (silahkan dilihat). Kalaupun belum mengetahui pasiionnya saat ini, yang penting adalah menuliskan sesuatu yang betul-betul kita merasa menikmati dalam menuliskannya.

Pertanyaan kesepuluh
Assalamualaikum ibuk Farrah dina, perkenalkan sy Syukri dari SMAN UNGGUL Dharmaraya Padang,
Perkenankan saya bertanya tentang pengalaman ibuk Farrah dalam tulis menulis ibu mengatakan ada 4 R, salah satunya adalah Renjana, saya kurang pahan dari bahasa apa itu Renjana dan mengapa ibuk letakkan di poin paling atas, Sekian wasalam
Jawaban:
Pak Syukri, renjana adalah passion, ketertarikan kita pada satu hal yang kita akan mengerahkan energi kita untuk itu dengan senang hati. Menulis sesuatu yang sesuai dengan renjana kita, itu akan menjadi kekuatan di awal. Manusia memerlukan reward langsung. Saat kita menulis sesuatu yang sesuai dengan minat kita, maka kita akan menikmatinya & hasilnya pun akan cepat jadi. Hasil tulisan yang jadi ini menjadi reward sendiri untuk kita sehingga kita akan terus termotivasi untuk menulis. Setelah itu, barulah berkreasi dengan berbagai genre agar kita menguasai menulis berbagai hal. Terima kasih

Pertanyaan kesebelas
Mat sore Bu Farrah, bagaimana caranya agar dapat menerima tanggapan pembaca yang negatif pada tahap ruang bagi pembaca? Bagaimana tips mengubah penulisan ilmiah menjadi penulisan populer? Benny Belang. Kupang-NTT.
Jawaban:
Pak Benny dari NTT, menerima tanggapan negatif memang tidak mudah. Jangan sampai juga itu medemotivasi kita dan menghilangkan jati diri kita. Saat kita mendengar tanggapan pembaca, yang perlu kita tahu sebenarnya adalah penangkapan pembaca terhadap hasil tulisan kita. Apakah sama seperti apa yang ingin kita sampaikan? Jika berbeda, apa yang berbeda (tentu perlu ada ruang imajinasi yang berbeda antara pembaca dan penulis). Kemudian "keseluruhan" atau "detail" apa yang tidak disuka. Kalau tidak suka karena selera yang berbeda, maka bisa jadi pelajaran bahwa orang dengan persona seperti dia bukanlah target pembaca kita. Jika tidak sukanya karena "persepsi" atau "terjemahan" yang berbeda dari yang sebenanrnya ingin kita sampaikan, maka mungkin ada penulisan yang perlu diperbaiki. Untuk buku ilmiah ke populer, ada pada jawaban no. 2
Pertanyaan keduabelas
Assalaamu'alaikum bu farah...tadi ibu menjelaskan tahapan menulis 4R. Yang pertama renjana (passion). Pertanyaan saya kalau saya merasa renjana (passion) saya membuat buku pelajan fisika. Apakah berarti sebaiknya saya menulis buku pelajaran fisika sajaj? Karena saya kalau mencoba menulis buku fisika terasa lebih ringan dibanding mencoba menulis artikel dll. Sri indayani SMAN 1 Paciran
Jawaban:
Bu Sri sang fisikawan, untuk tahap pertama maka sebaiknya ibu pilih buku fisika. Ini untuk menciptakan reward bagi diri kita di awal agar kita terus termotivasi untuk menulis. Namun setelah itu lebarkanlah sayap... Coba buat artikel lain yang tetap mengaitkan dengan fisika (ilmiah menjadi populer) dan berkreasilah dengan genre2 lain... Sebagai tambahan, dapat dibaca pada jawaban pertanyaan kedelapan.

Pertanyaan ketigabelas
Assalamualaikum bu fara..saya belum pernah menulis buku namun saya sering melakukan penelitian dan ada beberapa yang saya publikasikan. pertanyaan bagaimana cara mudah menulis buku sebagai pemula seperti saya karena bebrapa kali saya coba selalu gagal. terima tas pencerahanya. Fitran _Mataram
Jawaban:
Wa alaikum slaam wr wb... Pak Fitran yang suka meneliti, MULAI SAJA DULU (seperti iklan di tv yaa...). Ini yang paling penting. Jika memang tertarik dengan penelitian, coba ambil salah satu sudut dari penelitiannya untuk dijadikan artikel (bukan keseluruhan penelitian). Ambil sisi yang dapat dibangun konektivitasnya pada pembaca secara umum

Pertanyaan keempatbelas
Saya M. Rasyid Nur dari Karimun
Pertanyaan:
Sebelum menentukan R(uang) pembaca apakah kita perlu meneliti atau survey untuk calon pembaca buku kita. Lalu, bagaimana sebaiknya jika kita berharap pembacanya tidak terlalu spesifik?
Jawab:
Pak Rasyid, pada tahap awal kita menulis maka sebaiknya kita menulis untuk tujuan diri kita. Apa yang ingin kita sampaikan. Agar keluar jati diri kita sambil kita melihat yang cocok dengan tulisan kita itu pembaca yang bagaimana. Baru kemudian kita berkembang, mulai menulis berdasarkan "pesanan" artinya kita tentukan dulu sasaran pembacanya. Misalnya menulis untuk remaja maka ada bahasa-bahasa yang perlu disesuaikan, maka kita menulis dengan "frame" pembaca di kepala kita... Nanti kita minta pendapat dari pembaca yang dituju sesuai sasaran.

Pertanyaan kelimabelas
Salam sejahtera ibu Farah
Menulis buku anak itu tentu untuk membangkitkan minat maka perlu gambar. Apakah ibu menggambar sendiri atau menggunakan jasa? Atau adakah cara lain mendapatkan gambar. Buku Anak bagi saya itu suatu kesulitan. Saya sudah mencobanya. Terbentur pada gambar, termasuk bila harus meminta izin. Terima kasih bila ada tips yang berbeda. Salam Literasi dari Timor (Roni Bani)
Jawaban:
Salam Bapak Roni, saya membuat buku anak dengan desai berjenjang di awal. Mulai dari pembaca pemula yang harus penuh dengan gambar. Untuk ini tentu saya bekerja sama dengan ilustrator. Banyak komunitas-komunitas ilustrator saat ini, termasuk di medsos. Tapi pada jenjang yang lebih tinggi, buku anak akan lebih sedikit gambarnya bahkan tidak bergambar (novel anak). Nanti bapak tentukan saja di jenjang mana BApak ingin menuliskannya. Jika tertarik lebih lanjut, akan ada workshopnya oleh Tangga Edu, silahkan ikuti media sosialnya IG @tanggaedu & FB Tangga Edu untuk info terkini.

Pertanyaan keenambelas
Salam Sehat Ibu Farrah
Ini adalah hari ke-8 saya mengikuti pelatihan menulis. Kiat-kiat untuk menulis diantaranya menulis setiap hari, apa saja yang terlintas akan saya tulis. Jenis tulisan saya masih bersifat bebas dengan kata-kata yang mengalir begitu saja di dalam otak saya tulis. Yang ingin saya tanyakn bagaimana cara menulis secara ilmiah seperti PTK, Best Practice dengan baik. Elly Mahayani - Jembrana Bali
Jawab:
Salam Ibu Elly, selamat... dengan ibu sudah rutin menulis maka ibu sudah MEMULAI... Nanti dari kumpulan tulis itu, pilih beberapa yang ingin direview dengan serius hingga menjadi tulisan yang siap p ublikasi... Untuk tulisan ilmiah ke populer, ada di jawaban no. 2

Pertanyaam ketujuhbelas
Deni di Cimahi
Ijin bertanya. Ada yang bilang menulis buku anak itu lebih menantang atau sulit. Terutama bahasa yang digunakan musti sesuai dengan bahasa dunia anak. Bagaimana kiatnya?
Jawaban:
Sulit atau tidak sangat relatif. Tapi mungkin karena kita terbiasa dengan bahsa dewasa. Kuncinya adalah sering mendengarkan anak berbicara & memberikan buku kita pada anak agar kita tahu responnya... Kemudian bisa kita evaluasi. Saat menulis untuk dewasa, apa yang kita tuliskan akan ditangkap sama oleh pembaca. Tidak demikian dengan anak, hal sederhana saja bisa dipersepsikan berbeda, tidak sama dengan apa yang kita maksud.

Pertanyaan kedelapanbelas
Assalamualaikum Ibu Farah ,
Sesuai materi tadi bahwa Pembaca itu sangat dibutuhkan oleh penulis. Bagaimana cara menjadikan PD pada diri sendiri untuk tidak malu tulisannya dibaca orang lain. Saya sering menulis, tapi selesai menulis saya simpen. Pernah saya menulis di blog dulu uuu sekali ( baru tentang RPP dan pembelajaran sih, sedikit) tapi kok temen aku langsung copas semuanya dan dijadikan administrasinya dan dijadikan atas namanya untuk mendapatkan tanda tangan dari pimpinannya. Padahal saya nulis itu mikir setengah mati. Dari situ saya jadi males share lagi. Mungkin pikiran itu salah. Mohon pencerahannya. Terimakasih. Santi~ Jayapura
Jawaban:
Wa alaikum slm wr wb.
Ibu Santi, saat tulisan dipublikasikan maka hak penulis terhadap interpretasi terhadap tulisan itu menjadi hilang. Interpretasi dan tanggapan pembaca tidak bisa kita kontrol.... Maka perlu kebesaran hati, krn bisa saja tanggapan yang tidak baik yang kita terima. Nah kalau tentang hak cipta yang dikopi, maka pada saat kita membaginya di dunia maya, maka kita harus siap bahwa itu menjadi milik publik. Walaupun itu salah, tapi di dunia maya kita sulit mengkontrolnya.

Pertanyaan kesembilanbelas
Saya Sri Budi Handayani dari Gresik
Mau bertanya tentang proses kreatif mbak Farrah menulis buku anak , berikan contohnya, Terima kasih.
Jawaban:
Bu Sri, karena saya menulis buku berjenjang maka banyak pakem yang harus sy perhatikan. Biasanya saya memulai dari sesuatu value yang ingin saya kenalkan pada anak tapi tidak dengan cara doktrin tapi tertangkap. Agar dapat banyak ide, maka saya banyak menonton film anak, bergaul dengan anak-anak & membaca buku-buku anak. Contohnya buku "Sihdeh & Robot" yang intinya mengenalkan cara menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Kecenderungan anak laki-laki agak sulit untuk menenangkan diri saat marah, maka diambillah tokoh robot agar relate dengan anak laki. Setelah itu dibuat prosesnya, termasuk membuat story board.... Dibaca anak-anak , lalu review & revisi lagi dst... Dari masukan anak, bahkan judulnya pun ada perubahan.

Pertanyaan keduapuluh
Sri Sulastri dr Bojonegoro, pertnyaan saya cara apa agar bisa menghasilkan buku dengan cepat bagi penulis pemula?
Jawaban:
Bu Sri, mulai dari yang mudah menurut Ibu... Topik yang paling ibu kuasai. Tapi tidak ada yang instan, semua harus melalui proses. Proses itu akan semakin cepat jika segera dimulai

Pertanyaan keduapuluhsatu
Selamat Sore Ibu. Terkait R ke-4. Menurut pengalaman Ibu, berapa persen dari ruang pembaca dapat ditampung masukannya dan bagaimana sikap kita dalam mnerima semua kritikan itu agar tidak terbawa amarah. Terima Kasih- Bernad.Toraja
Jawaban:
Pak Bernard, Tidak ada rumus baku. Kita siapkan diri kita untuk terbuka terhadap berbagai masukan. Tapi kita lihat, kalau dia tidak suka karena berkaitan dengan selera yang berbeda, maka dia bukan target pembaca kita dan ini informasi berharga bagi kita. Tulisan kita akan memiliki target pembacanya sendiri. Tapi kalau pembaca tidak suka karena interpretasi yang salah dari hasil karya kita, maka mungkin cara kita menuliskannya perlu diperbaiki.

Pertanyaan keduapuluhdua
Selamat siang Ibu Farrah, saya grefer dari kupang, NTT. Apakah review buku yang dimaksudkan adalah sebelum buku kita diterbitkan, maka buku itu kita berikan kepada pembaca tertentu untuk membacanya lalu memberikan masukan positif atau negatif dari buku yang kita tulis. Lalu, dikembalikan dan kita revisi setelah itu baru diterbitkan? Terima kasih.
Jawaban
Betul pak, tapi bahkan apapun hasil tulisan kita, kita hadirkan pada pembaca & melihat tanggapannya -- ini bahkan sebelum proses penerbitan, usaha individu penulis untuk mendapat masukan. Kalau sudah ke penerbit, maka ada mekanismenya lagi tapi kita pun sudah bisa jelaskan targetnya siapa, tanggapannya bagaimana kira hingga buku kita itu bisa dibilang layak terbit


Demikianlah kuliah online ini. Ada perkataan Ibu Farrah yang membuat saya tergugah 

"Orang yang memendam akan kalah dengan orang yang mengungkapkan dan orang yang menunggu akan kalah dengan orang yang melakukan."

Yup jangan jadikan diri kita kalah karena diam dan menunggu. Ayo ungkapkan dan lakukan agar kita bisa menghasilkan karya-karya hebat seperti narasumber kita ini dan narasumber-narasumber yang lainnya.








Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri



Pengalaman Menulis di Penerbit Mayor
Bersama:
Ukim Komarudin




Senin, 4 Mei 2020, tepat ramadahan ke-11 kuliah online masih terus berjalan. Ini semua agar peserta mendapatkan ilmu dari narasumber-narasumber hebat yang bisa dijadikan inspirasi dalam menulis.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang semuanya. Guru-guru hebat Indonesia. Siang ini kita akan mendapatkan tambahan pengetahuan dan pengalaman dari bapak Ukim Komarudin. Itu salam pembuka dari Omjay kepada para peserta kuliah onlime. Kemudian Omjay mempersilakan kepada pak @Bambang Purwanto Bandung untuk memimpin acara dan menjadi moderatornya. Mr. Bams sapaan Pak Bambang Purwanto menyamput dengan ucapan terima kasih kepada Omjay karena memberikan kesempatan kepadanya untuk memandu pembelajaran siang ini. Alhamdulillah hari ini kita kedatangan pemateri yang luar biasa. Kita sapa Bapak Ukim. Tak lupa Mr. Bams menyapa pak Ukim "Bapak Ukim bagaimana kabarnya?" lalu dijawab oleh pak Ukim "Baik, Mr. Bams. Sehat. semoga Mr. Bams juga ya. Semoga teman-teman semua juga dalam kondisi sehat wal afiat." Dibalas kembali oleh Mr. Bams "Alhamdulillah."

Sebelum kuliah dimulai Mr. Bams memberi aturan untuk sesi tanya jawab, yaitu untuk penanya bisa japri ke 088809405468 dengan ketentuan: 1). Sebutkan nama dan daerah, 2). Hanya 1 pertanyaan dan 3). Pertanyaan dikirim paling cepat 14.45 (diluar itu tak akan dilayani). Setelah aturan itu di utarakan Mr. Bams, dipersilakan kepada Om Ukim memulai pembelajaran.

Pak Ukim memulai dengan ucapan "Saya sangat berterima kasih kepada panitia yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi. Saya masih belajar. Jadi mohon maaf apabila yang saya sampaikan sederhana. Semangat berbagi yang menyebabkan saya berani berbagi dalam kesempatan seperti ini. mohon doanya, semoga bermanfaat." Dilanjutkan dengan penjelasan materi hari ini.

Pertama, saya berpikir, menulis merupakan ekspresi pribadi saya. Oleh karena itu, saya merasa sangat penting agar saya memiliki tempat mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya. Lalu saya menemukan menulis adalah sarana yang tepat buat saya. Saya tak pernah merasa khawatir, terkait dengan kualitas tulisan saya. Saya juga tidak perduli dengan ragam atau apa yang menjadi trend di masyarakat. Pokoknya menulis. Menulis adalah kebutuhan. Saya merasa menemukan lebih tentang "saya" dengan menulis. Demikian hal itu terus berjalan hingga jika tidak dilakukan seperti ada sesuatu yang hilang. Demikianlah saya menulis dengan jujur, sejujur-jujurnya. Apa adanya.

Selain menulis apa adanya, saya pun menulis apa saja. Karena saya guru, saya menulis terkait pelajaran, beragam kegiatan berupa proposal, liputan kegiatan yang harus dituliskan di majalah, dan menulis buku harian. Begitu setiap saat diisi oleh menulis. Hingga sampai suatu hari, tulisan-tulisan itu mulai dilirik orang-orang terdekat, yang dalam hal ini teman-teman guru. Satu dua teman berkomentar bahwa tulisan saya bagus. Istilah mereka, tulisan saya emotif. Kata mereka juga, tulisan saya dapat membuat pembaca larut dalam cerita. Ada juga yang mengatakan bahwa bahasa saya sederhana dan mudah dicerna oleh pembaca. Ada juga yang mengaku bahwa sepenggal tulisan saya dapat dijadikan ceramah atau kultum, dan sebagainya.

Karena komentar tersebut, saya mencoba membukukan tulisan-tulisan saya yang selama ini merekam semua kejadian karena saya memang senang membuat buku harian. Ada beragam kejadian, tetapi tema besarnya, yang saya tuliskan merupakan pelajaran seorang dewasa (guru) dari anak-anak "cerdas" yang menjadi siswanya. Oleh karena tulisan itu beragam kejadian, beragam waktu, dan dari beragam tokoh, maka saya menuliskan judul buku tersebut, "Menghimpun yang Berserak." Sebuah usaha untuk mengumpulkan segenap mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang sangat bermanfaat bagi saya, dan semoga bermanfaat pula buat orang lain (pembaca).

Demikianlah waktu itu, saya yang kebetulan menjadi penanggung jawab penerbitan buku di sekolah menyisipkan karya pribadi, selain karya bersama (berlima) menulis dan berupaya buku mata pelajaran. Mr. Bams dan teman-teman yang kreatif, saya diinterview terkait dua bagian buku. Pertama, buku bersama yakni buku mata pelajaran. Kedua, buku pribadi saya, "Menghimpun yang Berserak." Dalam kesempatan interview itulah saya banyak mendapatkan pengetahuan terkait tips dan trik menerbitkan buku.

Saya banyak mendapatkan pelajaran menyangkut hal-hal yang tadinya tidak saya pikirkan. Pelajaran atau informasi itu awalnya, membuat saya tidak nyaman karena menabrak prinsip menulis saya. Umpamanya, "Apakah ketika saya menulis buku "Menghimpun yang Berserak ini sudah memperkirakan akan laku di pasaran?." Kalau sudah ada, apakah buku saya punya nilai tambah sehingga pembaca melirik dan membeli buku saya? Untuk kepentingan pasar, "Apakah saya bersedia apabila beberapa hal terjadi penyesuaian (diganti)? dan seterusnya.. Terus terang, saya merasa kurang nyaman dengan interview itu. Saya merasa diam-diam mulai "dipenjara". Inikan ekspresi pribadi saya, mengapa orang lain bisa mengatur hal-hal yang sangat privasi? Menyebalkan! Begitu, oleh-oleh pulang dari interview.
Saya yang tersadar mendapatkan ilmu pengetahuan lebih ketika beliau menjelaskan tentang tim yang akan menyebabkan karya saya dapat dinikmati orang banyak. Beliau menjelaskan bahwa yang menanyai saya itu mungkin editor. Sebab, beliaulah garda depan yang menentukan naskah itu layak diterbitkan atau sebaliknya. Menurut teman saya itu, naskah saya sepertinya punya potensi atau "layak" untuk diterbitkan. Tetapi sebagai pemula, karya saya memang harus dipoles di sana sini.

Jika nanti naskah itu bisa melewati editor, maka proses "menjadi" memang mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul, ilustrasi, photo jika diperlukan, tata letak, dan lainnya. Yang jelas, semuanya merupakan tim saya. Kasarnya, semuanya akan menyukseskan saya, begitu teman saya meyakinkan saya.

Oleh-oleh itulah yang menyebabkan saya menindaklanjuti pertemuan dengan penerbit. Selain hal-hal yang umum tentang buku mata pelajaran yang ditulis bersama, saya mengkhususkan pikiran ke buku "Menghimpun yang berserak". Yang menenangkan, editor menceritakan bahwa semua hal menangkut buku saya selalu dalam konfirmasi. Artinya, semuanya akan terjadi jika saya setuju.

Demikianlah saya menjelani proses, hingga akhirnya ada proses sebelum naik cetak, yang sangat penting dalam proses kreatif saya, yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa dicetak. Saya gembira sekali menerima buku dami itu. Terus terang saking gembiranya, saya menandatangi saja kontrak kerjasama tanpa membaca persentase yang kelak saya terima. Diduga sikap itu bukan sembrono, tetapi karena memang saya menulis bukan untuk hal tersebut.

Akhirnya, saya mendapat konfirmasi ketika saya dapat kabar bahwa ada meeting terkait dengan terbitnya buku saya. Pertama, saya menerima buku pribadi, kalau tidak salah jumlahnya hanya 5 buku. Buku tersebut berstempel tidak diperjual belikan. Kedua, saya diajak bicara terkait dengan teknis launching Buku "Menghimpun yang Berserak". Ini soal bagaimana membuat buku saya laku. Saat itu saya sangat bodoh dan kurang dapat memberikan masukan yang berarti. Ketiga, saya diberitahu bahwa penerbit menerbitkan jumlah yang diterbitkan pada penerbitan pertama ini dan kurang lebih 6 bulan kemudian saya baru akan mendapat royaltinya. Untuk tersebut juga saya tidak pandai memberi masukan.

Peran saya kemudian adalah mengusahakan buku saya dapat dinikmati orang lain. Kala itu agak sulit karena media sosial belum sedasyat sekarang. Kebetulan saya pembicara, saya berupaya menjual buku-buku saya pada kesempatan bicara tersebut.

Ada beberapa kejadian menerbitkan buku kembali, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga yang menjelang terakhir buku, "Arief Rachman Guru". Semuanya mirip-mirip pengalaman dengan penerbit. Kurang lebih, seperti itulah kira-kira. mohon maaf apabila kurang lengkap. semoga dapat dilengkapi ketika nanti tanya jawab.

Itulah pengantar dari Pak Ukim yang merupakan pengalamannya menulis buku hingga proses penerbitan buku. Pengalaman yang luar biasa dan mengandung ilmu yang berarti bagi saya sang pemula.

 
Kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab ini, pertanyaan akan diberikaoleh Mr. Bams dengan kode P1 dan seterusnya, lalu narasumber memberikan jawaban diakhiri dengan chat baris terakhir dengan hurur N.

P1:
Assalamu'alaikum. Saya Ratna Jumpa dari Sigli Aceh, ingin menanyakan kepada Bapak, bagaimana kriteria layak atau tidaknya sebuah buku dapat di terbitkan oleh penerbit terutama buku pelajaran. Terima kasih.
Jawaban:
Ibu Ratna yang baik. Memang ada kriteria yang dianggap layak untuk diterbitkan. Khususnya terkait buku mata pelajaran, biasanya mereka mencari buku: (1) menunjukkan penggunaan pendekatan baru; (2) lebih lengkap; (3) penulisnya memang berkualifikasi luar biasa; (4) Naskah renyah (enak dibaca); dan diutakan dari hasil penelitian lembaga-lembaga pendidikan terbaik. N

P2:
Assalamualaikum Om Ukim yang budiman, perkenalkan saya Syukri dari SMAN UNGGUL Dharmaraya Padang, saya bertanya tentang pengalaman Om Ukim dalam tulis menulis:
  1. Jeda berapa lama tulisannya mulai di lirik.
  2. Media apa tempat mempublish tulisan om pertama kali.
  3. Gimana latar belakang buku guru juga manusia sehingga bisa best seller, dan buku besy seller tersebut berapa exsemplar laku dan berapa oom dapat royalti dari buku tersebut. (maaf agak privasi)
  4. Dari awal mulai om menulis sanpai sekarang, ada ndak berubah motivasi oom Ukim dalam menulis.
  5. Saat oom di intervew sama siapa, dan apa hal yang sangat berkesan dari intervew tersebut.
  6. Keseharian Om Ukim seperti apa kesibukannya.
  7. Apakah buku karya Om Ukim semua diterbitkan di mayor?
  8. Buku mengumpulkan yang berserak tersebut berapa naskah semu.
Jawaban:
Om Syukri yang kreatif. Paling lama 6 bulan. Jika tidak ada kabar. Berpindah ke lain hati (penerbit lain) atau naskah direvisi ulang. Saya menulis di buletin sekolah, kemudian buletin pendidikan DKI, lalu buletin Diknas, dan seterusnya. Buku Guru juga Manusia bisa terjual banyak karena bantuan publikasi media sosial yang saaat itu sudah mulai menggejala. Untuk buku berikutnya, saya mendapatkan berkah dari medsos itu. Saya tipe penulis. Mungkin, lebih banyak buku yang tidak saya terbitkan daripada yang saya terbitkan. Saya memang bukan tipe pandai menjual ide. Saya senang menulis. Yang menarik buat saya tulis, ya saya tulis. Tak peduli tak dilirik penerbit. Tapi Allah maha pengasih. Beberapa sering dilirik penerbit dan jadi berkah buat keluarga. Yang interview dari dulu sampai kini sudah saya tahu. Pasti dia editor. Dialah penentunya. Saya sering berdoa, dan ternyata sering benar, "Dia lebih pintar dari saya". Minimal soal membuat buku saya laku di pasaran. Semua buku berkesan. Dia seperti anak saya. Dia ada yang berkembang dan bermakna bagi masyarakat luas. Ada juga yang diam-diam hanya dibaca sahabat dekat ketika dia terpuruk di sudut kamarnya. Semuanya saya syukuri. Ia lahir dari saya, saya bangga atas rezekinya. Demikian ya. N

P3:
Assalamu’alaikum Mr. Bams. Mau tanya kepada Pak Ukim Komarudin
Jika menulis di mayor di kasih waktu berapa lama untuk menulis setelah menyetorkan judul atau setelah kontrak di berikan, apakah setelah mendapat kontrak menulis di penerbit mayor, akan di tawari kerja sama lagi setiap tahunnya?
Mohamad Soni Jombang
Jawaban:
Pak Mohammad Soni yang baik, ketika bertemu penerbit saya sudah bawa naskah utuh. Dari naskah itu kita mulai bicara. Saya sering diminta menulis terus oleh beberapa penerbit karena beberapa buku saya yang dipergunakan di lembaga pendidikan terbit terus. mungkin sekarang sudah jilid belasan. Masalahnya di pembagian waktu atau prioritas. kelemahannya juga ada di saya. Pribadi saya kurang bisa kompromi. Tapi percayalah, dari karya Bapak yang sungguh-sungguh akan ada tawaran berikutnya. Masalahnya, Bapak berkenan membagi waktu dan prioritas? N

P4:
Saya ,Sri Budi Handayani dari Gresik mau bertanya Bagaimana mengetahui gaya selingkung penerbit.
Jawaban:
Ibu Sri, saya termasuk orang yang nggak mau belajar tentang itu. Bisa terkuras energi kita jika memikirkan hal itu. Itu sebabnya, saya menulis untuk diri saya. Jadi, ketika itu jadi duit, alhamdulillah. Lalu, saya tak mendapat konfirmasi sekaligus royalti, padahal di belakang saya mereka menerbitkan dan menjual buku saya. Silakan. Makan tuh rezeki saya semoga jadi amal yang dipakai kebaikan. Saya kurang suka dengan hal-hal yang diluar jangkauan saya N

P5:
Pertanyaan pertama Saya dulu menulis banyak novel,dan cerpen tapi tidak sampai klimaks sudah bosan. Bagaimana cara mengatasi nya? Pertanyaan kedua, saya suka menulis novel. Tapi, kenapa saya terus mengulang ulang kesalahan yang sama.Misal tokoh terlalu banyak, jalan cerita mudah ketebak,bagaimana cara mengatasinya? Pertanyaan ketiga, saya mempunyai asisten penulis novel. Teman saya beda kelas dan teman saya satu kelas. Alasan saya butuh asisten karena mereka sebelumnya pernah menulis novel di wattpad dan menjadi suka menggambar. Sehingga diharapkan agar ceritaku bisa dilihat dari sudut pandang bayak orang, tapi apakah langkah itu sudah betul? Pertanyaan keempat, karena banyak orang yang membatu saya, apakah mereka disertakan dalam bagian abstrak/pengenalan penulis, e…
Jawaban:
Bapak siapa, ya? Diduga Bapak salah memilih kategori ekspresi menulis. Bapak, harus menempatkan diri sesuai stamina dan kecenderungan Bapak. Ada tipe sprinter, maka pilih cerpen. Kalau Marathon, pilih novel. Mungkin bertahap ya, pak. Dari lari jarak pendek karen latihan akhirnya bisa lari jarak jauh. Ada yang disebut, Premis (tema besar). Biasa terdiri atas satu paragraf. Hebatnya, ia adalah sebuah headline yang memegang pergerakan ide, tokoh, dan alur cerita. Penulis hebat memulia dari itu, Pak. Percayalah, jika tidak memulia dari situ, kemungkinannya kalah tenaga, atau ngawur kemana-mana. Saya tipe orang yang sering menyembunyikan karya jika belum final. Saya orang teater, pak. Saya suka membuat kejutan dengan membina puncak-puncak cerita. Termasuk di sini kelahiran anak (karya) saya yang mengejutkan. Permasalahan penulis pemula sering serakah. Jadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, nggak jadi-jadi. Baru satu bab dikoreksi. Baru lima lembar disalahkan sendiri. Ya Ambyar. Tulis saja, nanti ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan akhirnya editor. Jika mereka menganggap tulisan bapak nggak laku di pasaran, tapi Bapak bilang itu bagus tak apa. Ada suatu masa yang dikatakan banyak orang jelek, saat itu malah dicari dan dibenarkan orang. Benar, Pak. Membaca yang banyak dan siapa saja yang Bapak suka. Hebatnya, Tuhan Maha kreatif dan Penyayang. Kita akan tumbuh menjadi diri sendiri tidak seperti Tere dan lainnya. Memang ada sedikit unsur, seperti ... tapi dalam dunia imajinassi itu sah. Namanya terinspirasi oleh ...N

P6:
Nama : Makhmud asal Gempol Pasuruan. Boleh tanya pak,
Saya baru akan menulis buku , pengalaman bahan untuk tak menulis sudah ada akan tetapi memulai menulisnya kesulitan. Bagaimana memulai menulis buku yang bisa meyakinkan bagi penulis .
Jawaban:
Pak Makhmud yang berani, mulailah menulis dengan membaca buku-buku yang diduga akan mirip ekspresi bentukannya seperti buku yang akan Bapak buat. Ketika kita datang ke perpustakaan atau toko buku, kita membaca untuk mendapatkan inspirasi. kadang-kadang, saya membeli buku atas tujuan seperti itu, Pak. Tentang meyakinkan memang dimulai dari Bapak dahulu. kalau Bapak kurang yakin, celakanya pembaca juga demikian. Mulailah banyak membaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat Bapak. Dari situ, bapak punya standar sendiri. Tentang meyakinkan memang dimulai dari Bapak dahulu. kalau Bapak kurang yakin, celakanya pembaca juga demikian. Mulailah banyak membaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat Bapak. Dari situ, bapak punya standar sendiri. N

P7:
Ass. wr wb. saya Hetty Setyoningrum dari SMPN 1 Kaloran Temanggung, Jawa Tengah. Ingin bertanya adakah tips dan trik agar kita bisa menjadi penulis produktif yang layak diterbitkan? Bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis (memulainya)? Terima kasih. wass.wr.wb
Jawaban:
Sahabatku Hetty, penulis yang baik memang pembaca yang baik. Banyak-banyaklah membaca sehingga akan mampu menulis. Saya setuju dengan himbauan menulislah setiap hari. Tapi tolong disertai membaca agar tulisan kita berkualitas. Itu hukumnya, Het. Menulis (produktif) pasokannya adalah membaca (receptif). Manulis saja. Dengarkan respons dari sekitar. Kita memang membutuhkan orang yang membuat kita terlecut menjadi lebih baik. N

P8:
Yulus Roma - Tana Toraja: Luar biasa pengalamannya pak, pertanyaan saya, apakah gaya bahasa sehari-hari bapak tertuang persis sama dengan gaya menulis di buku? Bagaimana mengolah bahasa sehari-hari agar renyah dibaca orang? Terima kasih.
Jawaban:
Yulus yang baik, pada akhirnya kita akan menjadi diri kita sendiri. Termasuk dalam hal karya. Yulus akan menemukan warna, tipe, dan kekuatan sendiri dalam menulis. Ketika teman-teman Yulus memuji tulisan Yulus, maka di saat itulah kualitas naik ke permukaan. Teruskan dan pupuk kekuatan itu. Sampai kalau serpihan tulisan Bapak terjatuh di jalanan, ada seorang teman yang mengatrakan kepada Anda bahwa ini tulisan milik Anda. Kita akan bertanya, "kok tahu sih ini tulisan saya?" Dia kan jawab, "Saya sudah hapal itu Gaya Yulus." N

Karena waktu telah usai, untuk sisa pertanyaan akan dirangkum Mr. Bams, kemudian dikirim ke Email: ukimlabs@gmail.com. Tapi sebelumnya Pak Ukim memberi penutup materi sebelum mengakhiri kuliah online ini.
«Teman-teman yang baik. Ada kehebatan dari seorang penulis. Ia jelas ekspresinya. Ia juga punya daya jangkau dakwah yang lebih luas dalam menebar kebaikan. Ia juga punya legacy atau warisan untuk pertinggal jejak kebaikannya, yakni tulisannya. Menulislah, setiap hari. karena anda akan menemukan kebahagiaan; menulis berarti kita MENCIPTAKAN SEJUMLAH KEBAIKAN.

Berikut pertanyaan yang akan dikirim Mr. Bams ke email Pak Ukim
P9:
Nama saya Fatma Eviana dari Pati. Mohon pencerahan.
Apakah menulis artikel atau menulis apa saja ada aturan urutan yang ditentukan seperti menulis penulisan karya ilmiah?
Jika memang ada mohon penjelasan.

P10:
Assalamualaikum pak Ukim saya ingin sekali tulisan saya sekarang dikelas menulis ini bisa dibukukan, namun tulisan saya, dibaca sendiri aja, masih acak-acakan baik bahasa maupun ejaan penulisannya. Apakah tulisan saya itu bisa dibukukan? Bagaimana dengan bahasa dan ejaannya yang belum sesuai ?

P11:
Siang.. saya Kaswati dari SMKN 1 Nglegok Blitar
Mau bertanya
Bagaimana langkah kita menulis buku pelajaran yang kita ampu dan bagaimana trik trik jitu agar buku pelajaran yang kita buat bisa di minati para pembaca utamanya kaum pelajar. Terimakasih


P12:
Assalaamu'alaikum pak ukim. Saya sri indayani dari Lamongan. Saya sedang menulis buku pelajaran yang didalamnya banyak gambarnya, tetapi saya hanya bisa menggambar sebatas kemampuan saya. Yang saya tanyakan, apakah penerbit akan memperbaiki gambarnya jika bukunya diterima oleh penerbit?

P13:
Suminarsih, Pemalang
Pertanyaan: Dari Pengalaman Bapak penerbit yang menawarkan untuk buku bapak diterbitkan. Untuk pemula tentu harus penulis yang mengajukan proposal ke penerbit? Bagaimana prosesnya?

P14:
Saya Candra dari Langkat-SUMUT, Pak. Alhamdulillah saya sudah baca buku bapak menghimpun yang berserak. Karya yang luar biasa. Yang mau saya tanyakan Pak, dominannya apa hal yang paling banyak dikoreksi oleh pihak editor dan kiranya apa trik saya penulis pemula agar bisa meminimalisir hal itu? Terima kasih

P15:
Selamat sore pak Ukim, saya Grefer Pollo dari Kupang NTT,
Berdasarkan pengalaman bapak pribadi, apa kelebihan dan kekurangan jika penulis sebagai editor dari tulisannya dan orang lain (bukan penulis) sebagai editor? Terima kasih.

P16:
Salam sejahtera pak Ukim.
Saya mempunyai pengalaman yang mirip dengan bapak Ukim. Bedanya pada konteks dan kondisi. Saya berada di pedesaan pedalaman Timor yang akses ke penerbit tidak sama. Penerbit di Kota Kupang yang saya temui pertama kali untuk mengantarkan apa yang kira-kira idem dengan milik pak Ukim, Menghimpun yang Berserak; Punyaku kusebut, Catatan Seorang Guru Daerah Terpencil. Mula-mula pimpinan penerbit tidak percaya kalau saya penulisnya, berhubung yang saya bawa itu fotokopian dari potongan-potongan koran dimana opini-opini saya diterbitkan. Beruntungnya, saya punya Kartu anggota PGRI. Saya tunjukkan. Ia percaya bahwa saya guru, namun kelihatan pula keraguannya. Saya harus menjelaskan berulang. Nah, saya sadar. Saya datang dari kampung. Tampilan memang kampungan, tidak nampak wajah sebagai penulis. Belum lagi penilaian apakah saya berdompet. Semua itu saya alami. Akhirnya melalui proses panjang berbelit, buku pertama terbit tahun 2015, minta Penerbit sekaligus yang punya percetakan menggandakan sebanyak 200 eksemplar. Nah, kesulitan lain muncul. Masyarakat pendidikan kami (mungkin daerah lain berbeda dengan kami di pedesaan), belum punya kebiasaan membaca. Mana mungkin membeli buku apalagi dari penulis kelas kampung. Itu romantikanya saya merambah dunia kepenulisan secara otodidak. Hari ini bapak Ukim berbagi pengalaman, saya ingin bertanya, Bagaimana bapak membangkitkan minat baca lingkungan sekitar bapak? Roni Bani _Kab Kupang

P17:
Sri sulastri dr SMKN 2 Bojonegoro, jatim.
Kenapa editor ada yang TIDAK mengedit naskah buku?

P18:
Assalamu'alaikum. Saya Uri dari Majalengka Jawa Barat, ingin menanyakan kepada Bapak, "Apakah setiap buku yang kita ajukan untuk diterbitkan selalu diawali dengan inteview terlebih dahulu?" Terima kasih.

P19:
Assalamualaikum. Mr Bams... Saya Ika Siswati dari Tangerang.. mau bertanya kepada bp. Ukim mengenai sistem kerja sama yang saya baca di power point. Di situ d tuliskan bahwa sistem kerja sama itu ada royalti dan pembelian naskah. Boleh dijelaskan mengenai pembelian naskah pak. Terima kasih.

P20:
Saya Rachmi dari Banyuwangi
Jujur saya gagap menulis artinya masih harus belajar banyak hal seperti sekarang mengikuti belajar menulis, saya punya keinginan awal bisa menulis di buletin. Apakah ada syarat-syarat khususnya? Terima kasih pak Ukim.

P21:
Assalamu'alaikum. Saya Suminar dari Tangerang.
Mohon maaf kepo, untuk memotivasi diri saya, sejak kapan bapak mencurahkan ekspresi diri dalam tulisan sehingga menjadikan menulis adalah kebutuhan. Dan di media apa saja bapak mengawali menulis. Terima kasih


Tepat pukul 17.47 WIB, Pak Ukim mengirim jawaban atas pertanyaan susulan. Berikut jawabannya.


P9

Nama saya Fatma Eviana dari Pati
Mohon pencerahan 
Apakah menulis artikel atau menulis apa saja ada aturan urutan yang ditentukan seperti menulis penulisan karya ilmiah?

JAWAB
Betul, Ibu Fatma. Semua tulisan ada pagunya. Minimal itu sebagai pegangan dasar. Ke sananya, ketika kita mahir, kita mampu membuat varasi-variasi yang kita kehendaki tetapi tetap berpegang pada pagunya.

P10
Assalamualaikum pak Ukim saya ingin sekali tulisan saya sekarang dikelas menulis ini bisa dibukukan, namun tulisan saya, dibaca sendiri aja, masih acak-acakan baik bahasa maupun ejaan penulisannya. Apakah tulisan saya itu bisa dibukukan? Bagaimana dengan bahasa dan ejaannya yang belum sesuai ?

JAWAB

Penanya yang budiman, memang semuanya perlu proses. Ide untuk membukukan hasil pelatihan ini merupakan hal brilyan. Mulailah membukukan dengan niat untuk pribadi terlebih dahulu. Dengan membukukan kita punya basic kemampuan yang akan kita ukur kelak setelah berikutnya berproses. Saya doakan anda merasa adanya kemajuan setelah sekian lama berproses





P11
Siang.. saya Kaswati dari SMKN 1 Nglegok Blitar
Mau bertanya
Bagaimana langkah kita menulis buku pelajaran yang kita ampu dan bagaimana trik trik jitu agar buku pelajaran yang kita buat bisa di minati para pembaca utamanya kaum pelajar. Terimakasih
JAWAB
Ibu Kaswati,
Mulailah dengan modul atau serpihan bab sebagai pegangan siswa sendiri. Minta mereka memberikan masukan. Tahun depan, semoga Ibu bisa meningkatkannya menjadi buku sederhana tetapi hanya untuk kalangan sendiri. Mintalah masukan kembali kepada anak-anak terkait banyak hal yang pernah saya jelaskan di awal. Setelah itu, saya yakin akan menjeadi lebih baik sampaik Ibu marasa yakin kalau ini layak untuk diterbitkan.

P12
Assalaamu'alaikum pak ukim. Saya Sri Indayani dari Lamongan. Saya sedang menulis buku pelajaran yang didalamnya banyak gambarnya, tetap saya hanya bisa menggambar sebatas kemampuan saya. Yang saya tanyakan, apakah penerbit akan memperbaiki gambarnya jika bukunya diterima oleh penerbit?
JAWAB
Ya, Bu. Awalnya mereka akan melihat substansi buku sebagaimana saya jelaskan di atas. Soal gambar dan lain-lain, apalagi yang sifatnya lipstik, mereka lebih punya stok dan tahu etika pengambilan gambar yang tidak mengundang masalah. Kadang-kadang, saking bagusnya buku Ibu, mereka mau beli gambar di situs-situs resmi.

P13
Suminarsih
Pemalang
Pertanyaan: Dari Pengalaman Bapak penerbit yang menawarkan untuk buku bapak diterbitkan. Untuk pemula tentu harus penulis yang mengajukan proposal ke penerbit? Bagaimana prosesnya?
JAWAB
Ibu Suminarsih bisa datang sendiri ke penerbit atau mengirimnya lewat pos. Kemasannya: (1) surat yang menjelaskan maksud Ibu; dan (2) Naskahnya. Ingat, jangan file, tetapi print outnya.
Minta tanda terima jika mengantar langsung dan tanyakan biasanya kapan mendapatkan tanggapan. Syukur jika mendapatkan nomor kontak editornya.

P14
Saya Candra dari Langkat-SUMUT, Pak. Alhamdulillah saya sudah baca buku bapak menghimpun yang berserak. Karya yang luar biasa. Yang mau saya tanyakn Pak, dominannya apa hal yang paling banyak dikoreksi oleh pihak editor dan kiranya apa trik saya penulis pemula agar bisa meminimalisir hal itu? Terima kasih
JAWAB
Pak Candra, kebetulan saat itu penerbitnya (editornya) jatuh cinta duluan pada tulisan saya. Ia hanya minta persetujuan pembubuhan ilustrasi. Kala itu, saya setuju usulan tersebut sebab illustrator menjadikan buku tersebut lebih menarik.
Kalau bapak ada karya yang mau ditawarkan, segera saja kirimkan. Siapa tahu nasib baik sedang berada di Bapak.

P15
Selamat sore pak Ukim, saya grefer pollo dari kupang NTT, 
Berdasarkan pengalaman bapak pribadi, apa kelebihan dan kekurangan jika penulis sebagai editor dari tulisannya dan orang lain (bukan penulis) sebagai editor? Terima kasih.

JAWAB
Pak Grefer, maksudnya dalam keseharian tugas Bapak sebagai editor, ya? Wah itu hebat, Pak. Sebab Bapak sudah tahu apa yang harus Bapak kerjakan. Adapun ada orang lain yang mau dan mampu mengedit tulisan Bapak, itu nasib baik. Semoga Tulisan bapak menjadi lebih berkualitas.

P16
Salam sejahtera pak Ukim. 
Saya mempunyai pengalaman yang mirip dengan bapak Ukim. Bedanya pada konteks dan kondisi.
Saya berada di pedesaan pedalaman Timor yang akses ke penerbit tidak sama. Penerbit di Kota Kupang yang saya temui pertama kali untuk mengantarkan apa yang kira-kira idem dengan milik pak Ukim, Menghimpun yang Berserak; 
Punyaku kusebut, Catatan Seorang Guru Daerah Terpencil.
Mula-mula pimpinan penerbit tidak percaya kalau saya penulisnya, berhubung yang saya bawa itu fotokopian dari potongan-potongan koran dimana opini-opini saya diterbitkan.
Beruntungnya, saya punya Kartu anggota PGRI. Saya tunjukkan. Ia percaya bahwa saya guru, namun kelihatan pula keraguannya. Saya harus menjelaskan berulang. Nah, saya sadar. Saya datang dari kampung. Tampilan memang kampungan, tidak nampak wajah sebagai penulis., Belum lagi penilaian apakah saya berdompet.
Semua itu saya alami. Akhirnya melalui proses panjang berbelit, buku pertama terbit tahun 2015, minta Penerbit sekaligus yang punya percetakan menggandakan sebanyak 200 eksemplar.
Nah, kesulitan lain muncul. Masyarakat pendidikan kami (mungkin daerah lain berbeda dengan kami di pedesaan), belum punya kebiasaan membaca. Mana mungkin membeli buku apalagi dari penulis kelas kampung. Itu romantikanya saya merambah dunia kepenulisan secara otodidak. Hari ini bapak Ukim berbagi pengalaman, saya ingin bertanya, Bagaimana bapak membangkitkan minat baca lingkungan sekitar bapak? Roni Bani _Kab Kupang

JAWAB
Pak Roni Bani, yang pekerja keras.
Saya merasa malu membaca pengalaman Bapak yang luar biasa. Saya tidak punya kesulitan yang berate dibanding pengalaman bapak yang berbelit untuk menghasilkan karya. Saya yakin harus ada terobosan baru dalam pemasaran buku Bapak karena jika mengandalkan sebatas teman-teman sekitar, buku itu hanya menjadi “kuntum”. Dia tidak “mekar” apalagi “berbuah” banyak.
Bapak yang ulet, berusahalah bicara dengan penerbit lain yang mungkin bisa menerbitkan di wilayah yang lebih besar kemungkinan pembacanya. Semoga Bapak beruntung.

P17
Sri sulastri dr SMKN 2 Bojonegoro, jatim. 
Kenapa editor ada yg TDK mengedit naskah buku?
JAWAB
Ya, Bu Sulastri. Mungkin ada editor yang tidak kompeten. Kita jadi repot karena begitu dami sampai di kita, kita jadi sibuk membetulkan yang menurut kita salah. Celakanya, pengalaman saya itu tanda-tanda penerbit tak berkualitas.

P18
Assalamu'alaikum. Saya Uri dari Majalengka Jawa Barat, ingin menanyakan kepada Bapak, "Apakah setiap buku yang kita ajukan untuk diterbitkan selalu diawali dengan inteview terlebih dahulu?" Terima kasih.
JAWAB
Ibu Uri,
Interview itu tanda-tanda naskah kita dilirik. Berbahagialah Ibu karena diduga naskah ibu diperhitungkan. Jangan meniru gaya saya yang awam. Untung masih rezeki meski kemudian saya baru menanggapi, saya masih diperhatikan penerbit. Kadang-kadang, naskah kita diterlantarkan oleh mereka tanpa kabar.

P19
Assalamualaikum. Mr. Bams... Saya Ika Siswati dari Tangerang.. Maubertanya kepada bp. Ukim mengenai sistem kerja sama yang saya baca di power point,... Di situ d tuliskan bahwa sistem kerja sama itu ada royalti dan pembelian naskah. Boleh dijelaskan mengenai pembelian naskah pak...terima kasih...
JAWAB
Ibu Ika, ada dua sistem kerjasama. Pertama, naskah dibiayai hingga terbit dengan nama penulis sebagai pencipta buku dipertahankan. Sebagai gantinya, pihak penerbit menawarkan royalty sebagai pengahasilan penulis dengan rentang 10% s.d. 12%). Artinya, penghasilan atau keuntungan sisanya milik penerbit.
Kedua, naskah dibeli oleh penerbit. Anda sebagai penulis tak lagi berhak mencantumkan nama karena hak naskah sudah anda jual. Biasanya harga naskah tinggi hingga ratusan juta rupiah.
P20
Saya Rachmi dari Banyuwangi
Jujur saya gagap menulis artinya masih harus belajar banyak hal seperti sekarang mengikuti belajar menulis, saya punya keinginan awal bisa menulis di buletin. Apakah ada syarat-syarat khususnya?
JAWAB
Ya, Ibu Rachmi. Tanyakan kepada pengasuhnya atau contek naskah bulletin yang telah ada. Umpamanya, yang saya tahu. Naskah paling banyak 4 halaman HVS ukuran A4 diketik spasi ganda dengan margin standar. Biasanya seperti itu. Baik juga jika Ibu bertanya kepada pengasuhnya.

P21
Assalamu'alaikum
Saya Suminar. Dari Tangerang.
Mohon maaf kepo, untuk memotivasi diri saya, sejak kapan bapak mencurahkan ekspresi diri dalam tulisan sehingga menjadikan menulis adalah kebutuhan. Dan di media apa saja bapak mengawali menulis. Terima kasih
JAWAB
Sdr. Suminar,
Saya mulai menulis sejak mahasiswa tahun terakhir. Saya mulai berkarir sebagai jasa pengetik naskah teman yang kebetuan sudah mapan dalam menulis. Sebenarnya, saya mencuri cara berpikir dan berproses dia sejak awal. Dan saya berhasil.
P22
Terimakasih. Saya Naharuddin NTB. Terkait dengan karya tercetak jadi buku yang kenjdian menjadi judulnya "menghimpun yang berserak" sepertinya saya punya karnya berserak berupa artikel. koran. Apakah ada peluang dibukukan. Tulisannya tidak boom pak.
JAWAB
Bapak Naharuddin yang baik,
Wah itu hebat, Pak. Sejumlah artikel itu Bapak kumpulkan berdasarkan tema. Kemudian bapak lengkapi sesuai dengan isu kekinian sehingga naskah itu pas dengan situasi kini. Tolong Pak jangan disia-siakan. Sepertinya untuk menjadikannya sebagai buku, Bapak sudah setengah jalan tuh.
Jakarta, 4 Mei 2020
Salam Takjim,
Ukim Komarudin 

Ternyata setelah mengetahui pengalaman menulis Pak Ukim hingga penerbitan bukunya banyak proses yang dilalui. Sebagai penulis harus bersabar ingin bukunya diterbitkan. Perbanyak membaca dan sering berlatih menulis sehingga tulisan itu berkembang dan layak diterbitkan dan laku dipasar. Terima kasih pak Ukim atas pengalamannya. Pengalaman yang sangat berharga buat saya.




Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri