Tuesday, April 7, 2020


Menulis Tanpa Ide
Bersama:
Budiman Hakim



  
Narasumber kali ini adalah seorang penggiat literasi yang mengawali karirnya sebagai copywriter. Beliau adalah Budiman Hakim yang sering dipanggil sebagai Om Bud. Orang periklanan, anak-anaknya, istri, teman bahkan mertuanya memanggil Om Bud. Berbagai penghargaan banyak diraihnya baik itu di ajang festival periklanan lokal maupun internasional. Sekarang ini Budiman Hakim lebih memfokuskan diri sebagai pengajar, baik di kampus, pengusaha UKM dan korporasi di Indonesia. Banyak buku yang telah beliau tulis. Salah satunya "Menulis Tanpa Ide." Pas banget dengan tema materi kali ini Menulis Tanpa Ide.



Belajar menulis ini yang dimoderatori oleh Akbar Zainudin, diawali dengan perkenalan dan sebuah pertanyaan, "Bagaimanakah kita menentukan sebuah tulisan itu menarik atau tidak? Mudah saja!." itu yang dikatakan Om Bud.

Berikut penjelasan Om Bud
Tulisan yang bagus adalah yang mampu menggugah EMOSI pembacanya.

Cara menilainya cuma dengan 1 pertanyaan :
Apakah buku kita mampu membuat pembaca tertawa terbahak-bahak?

Artinya ketika orang menangis atau tertawa, maka di situlah saat tulisan kita mampu menggugah EMOSI pembacanya. Jadi kata kuncinya adalah EMOSI.

Kesimpulannya adalah ketika kita menulis sebuah cerita, kita wajib memasukkan unsur EMOSI dalam cerita itu. Sayang, pelaksanaannya ternyata tidak semudah itu. Ketika kita ingin menulis, seringkali kita tidak punya ide. Orang-orang banyak yang mengistilahkan kondisi ini dengan writers block. Nah, untuk mengantisipasi hal itu Om Bud membagi 2 metode yang bisa kita lakukan.

  1. Memanfaatkan Emosi
  2. Caranya sangat sederhana. Tuliskan semua perubahan EMOSI dalam kehidupan kita sehari-hari. Metode ini dinamai CERPENTING oleh OM Bud. Singkatan dari Cerita Pendek Tidak Penting.         



    Cerpenting adalah metode menuliskan peristiwa-peristiwa REMEH yang terjadi di sekeliling kita. Meskipun ceritanya sepele tapi ternyata kita ketawa, marah, atau terharu atas peristiwa itu. Dengan kata lain semua rasa yang menggugah emosi kita. Jadi tuliskanlah peristiwa tersebut. Perlu dipahami benar, bahwa cerita harus benar-benar TIDAK PENTING penegasan Om Bud. Menulis cerpenting memang menuliskan sesuatu yang TIDAK PENTING tapi manfaatnya SANGAT PENTING. Karena kalau kita bisa menggugah emosi pembaca dengan topik yang SANGAT SEPELE, apalagi kalau kita menuliskan hal yang SANGAT PENTING. Pastinya bakalan jadi bagus banget. Berikut contoh cerpenting  

    BACA BUKU LOMPAT-LOMPAT

    Sedang asyik makan Ifumi di sebuah resto kecil di Senayan City, tiba-tiba seorang perempuan datang mengagetkan saya.

    “Om Bud. Wah, kok bisa ketemu di sini kita,” kata Indri. Dia adalah temen saya di industri periklanan.

    “Hey, Indri. Pakabar lo?” tanya saya lalu cipika-cipiki dengannya.

    Dengan cuek Indri langsung bergabung di meja saya lalu berkata, “Om Bud, gue udah baca buku lo yang judulnya STORYTELLING. Bagus banget! Gue suka.”

    “Kok bisa bilang bagus? Emang lo udah abis bacanya?” tanya saya.

    “Belom, sih,” katanya, “Abis gue bacanya lompat-lompat.”

    Saya berhenti menyuap ifumi, memegang pundaknya lalu berkata, “Lain kali kalo baca buku, lo harus duduk. Kalo lompat-lompat ya susah nyelesainnya.”

    “HAHAHAHAHAHAHAHA….Gila lo!!!”

          
  3. Memancing Emosi
  4. Dari emosi yang kita dapat bisa kita konversikan menjadi ide. Caranya adalah dengan memperhatikan sekeliling kita. Lalu tuliskan benda-benda yang kita tangkap melalui pancaindera. Kemudian digabungkan dan susun semua benda tadi menjadi satu kesatuan dalam beberapa kalimat. Dengan menuliskan apa yang ditemukan oleh pancaindera, tulisan tersebut akan berfungsi menjadi pemicu supaya ide datang. Contoh cerpenting yang buat dari benda-benda yang dipilih pintu, kasur, sepatu tua, kulkas, handuk, dan pancuran.  

    Brak! PINTU kamar tidur kudorong dengan kuat sehingga menimbulkan suara menggelegar. Aku terlalu capek sehingga langsung kubanting tubuhku di atas KASUR yang empuk. Kepalaku mau pecah rasanya karena letih.

    “Aku benci sama kamu!!!” Tiba-tiba terdengar suara mengagetkanku..

    Aku mencari suara tersebut ternyata datangnya dari SEPATU TUA yang sedang mojok di sudut kamar, di samping KULKAS.

    “Kenapa kok benci?” tanyaku terheran-heran kok sepatu itu bisa berbicara. 

    “Sejak kau memiliki sepatu baru, kau tidak pernah peduli lagi padaku. I hate you!!”

    Hah? Sepatu lamaku cemburu dan merasa dicampakkan. Aduh! Apakah aku sudah gila?

    “I HATE YOU!!!!!!”””
     
    Dengan cepat aku berdiri meraih HANDUK lalu masuk ke kamar mandi. Barangkali guyuran air dingin dari PANCURAN bisa menyegarkan tubuh dan pikiranku. Bismillah….
Menulis itu sebuah proses. Menulis bukan skill yang bisa diperoleh dalam waktu semalam. Jadi kita memang harus menulius.Jika sudah terbiasa menulis cerpenting, maka kita akan selalu mendapat pemicu untuk menulis. Tidak usah mikirin apa gunanya tulisan itu. Anggap aja itu adalah latihan menulis yang menyenangkan. Karena kita mengalaminya sendiri dan terbukti menggugah emosi. Jadi tidak ada salahnya kita abadikan. Kalau kita mau lebih peka terhadap apa yang terjadi pada kita sehari-hari, sebetulnya ada banyak yang bisa kita tuliskan menjadi cerpenting. So, apa lagi gaess mari menulis, menulis dan menulis.
"Ide itu bukan ditunggu. Tapi, harus dipancing.»




Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri



Monday, April 6, 2020


Proses Menulis dan Menerbitkan Buku Berkualitas Ke Penerbit Mayor
Bersama:
Akbar Zainudin


  



Man Jadda Wajada adalah buku best seller yang dibuat oleh seorang penulis yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Dia adalah Akbar Zainudin, MM, MJW. Kelahiran 7 Februari 1973. Beliau adalah seorang trainer dan motivator nasional. Dari buku-buku yang ditulisnya, beliau sudah keliling 33 Kota di Indonesia dan mancanegara . Saat ini ada 13 buku sudah ditulisnya.

Pertemuan ketujuh ini membahas tentang Proses Menulis dan Menerbitkan Buku Berkualitas Ke Penerbit Mayor. Diawali dengan mengunjungi link YouTobe https://youtu.be/Pvq2dqyWNcq yang beliau berikan, ada beberapa langkah dalam menulis buku yang ia singkat dengan TOJTRP. Apa itu TOJTRP?. Mari kita lihat penjabarannya.
  1. T adalah Tema
  2. Tentukan tema tulisan karena tema akan menjadi garis/benang merah dari keseluruhan tulisan kita. Setiap buku harus punya tema besar, baik itu buku fiksi maupun non fiksi.
  3. O adalah Outline
  4. Outline/Daftar Isi adalah gambaran besar dalam menulis akan seperti apa buku itu. Gunanya outline agar tulisan kita terarah, bisa buat jadwal dan target, menghindari "ngeblank" pada saat menulis, dan agar bukunya selesai.Outline untuk naskah Non Fiksi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: Pertama opening/pendahuluan. berisi latar belakang, tujuan dan juga maksud penulisan. Kedua Isi naskah. biasanya berisi teori-teori, peristiwa aktual, analisis terhadap peristiwa. How To (Tips and Trick) dan Ketiga Kesimpulan dan penutup. Sedangkan untuk naskah Fiksi yang perlu diperhatikan adalah tokoh, karakter tiap tokoh, alur atau plot cerita serta klimaks dan ending cerita.
  5. J adalah Jadwal
  6. Jadwal merupakan rahasia buku itu selesai atau tidak. Disiplin menulis sesuai jadwal yang dibuat menentukan siapnya buku itu. Dengan membuat jadwal, maka akan memudahkan kita untuk mengontrol dan mengevaluasi dari hasil tulisan kita.
  7. T adalah Tulis
  8. Tuliskan sesuai dengan outline dan jadwal yang sudah dibuat. Tulis dan selesaikan semua judul artikel terlebih dahulu. Jangan terpaku untuk satu tulisan sampai sempurna.
  9. R adalah Revisi
  10. Revisi dilakukan setelah semua draf itu selesai dibuat. Hal yang perlu direvisi adalah data dan informasi yang kurang, tata bahasa, gaya tulisan, dan judul. Buatlah judul yang menarik, sederhana dan buat orang ingin tahu.
  11. P adalah Penerbit
  12. Selesaikan naskah kita baru serahkan ke penerbit. Yang menjadi pertimbangan penerbit paling utama adalah bukunya laku atau tidak. Ini menyangkut kebutuhan masyarakat pembaca. Semakin besar kebutuhan masyarakat akan buku kita, maka peluang diterbitkan semakin besar. Karena itu, sebagai penulis kita mesti memahami buku kita siapa yang akan beli, dan siapa yang kira-kira akan baca.  
Setelah kita mengikuti langkah-langkah menulis tersebut kirimlah naskah berupa hardcopy dan softcopy dalam bentuk CD atau FlashDisk. Dalam waktu 3 bulan kita akan mengetahui diterima atau tidaknya naskah kita tersebut. Seandainya naskah kita tidak diterima penerbit ada kemungkinan naskah kita dikembalikan ataupun tidak. Tetapi semuanya akan diberitahukan baik lewat email ataupun telepon. Kalau naskah ditolak, diperbaiki saja. Lalu kirimkan ke penerbit yang sama atau ke penerbit lain. Yang menjadi pertimbangan apabila naskah kita tidak diterima yang menjadi partimbangan utama, biasanya penerbit melihat tidak cukup segmen pembelinya. Artinya secara bisnis tidak menguntungkan. Atau, pembaca ada, tetapi naskah kita dirasa tidak cukup menarik pembaca untuk membeli. Jadi intinya pertimbangan penerbit yang paling utama adalah BISNIS, bukan laku atau tidaknya. Kita tidak perlu membayar ke penerbit. Bahkan kita mendapatkan uang ROYALTI. Rata-rata royalti adalah 10% dari buku yang terjual. Agar tulisan kita bisa diterbitkan, judul harus menarik (Provokatif, jelas, tegas, sederhana). Biasanyajudul terdiri dari 3 kata. Kalau banyak untuk sub judul.

Menulis adalah suatu keterampilan. Semakin sering dilatih, akan semakin enak dibaca orang. Untuk itu banyak-banyak berlatih. Luangkan waktu setiap hari sekitar 30-60 menit. Lawan kendala utama yaitu MALAS. Kiat-kiat agar rasa malas hilang buat target, buat jadwal harian jam berapa menulis, jangan menunda dan paksakan. Harus ada waktu yang dikorbankan untuk dialokasikan menulis. Kapan saja boleh, bisa pagi, siang atau malam. Yang penting konsisten SETIAP HARI. Dan mulai hari ini, hilangkan kata tapi. Kalau masih ada kata tapi, berarti masih jauh. Untuk itu Menulis dan membaca adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. harus banyak membaca kalau ingin tulisannya bagus. Dengan banyak membaca, kita bisa lebih banyak perbendaharaan kata. Pak Akbar menutup materi dengan kata-kata motivasi.

Teruslah berlatih menulis, menulis dan menulis
Berdisiplin saja setiap hari, nanti tau-tau tulisan kita akan banyak
Akan lebih baik dan tau-tau jadi buku

Terima kasih Pak Akbar atas pembelajaran yang berharga hari ini. Sehingga saya menjadi terinspirasi dan termotivasi untuk terus menulis dan menulis.





Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri


Saturday, April 4, 2020

Resume 6


Menulis Tentang Momen Spesial Kala Mengajar
Oleh:
Munif Chatib




  
Pak Munif Chatib adalah seorang penulis luar biasa yang sudah banyak menghasilkan buku-buku best seller. Diantara buku best sellernya adalah Gurunya Manusia, Sekolahnya Manusia, Orangtuanya Manusia, Kelasnya Manusia, dan lain-lain. Saat ini beliau menjabat CEO NEXT EDU INDONESIA, Sebuah Lembaga konsultan dan pelatihan guru di seluruh Indonesia dan luar negeri.
Pertemuan kali ini Pak Munif akan membawakan materi yang sungguh menarik yaitu Menulis Tentang Momen Spesial Kala Mengajar. Saya yakin sebagai guru pasti banyak sekali momen-momen spesial itu. Hanya saja tidak dituangkan dalam tulisan. Seandainya dari awal mengajar kita menulis momen spesial itu pasti saat ini kita sudah bisa menghasilkan buku. Sesal tiada guna.

Kembali pada pembelajaran kali ini. Pak Munif mengawali dengan mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Materi yang diberikan di share lewat link youtobe http://youtobe.be/-tGJsRRQrV0 , selama 13 menit. Sebelum materi dilanjut kami dipersilakan menyimak terlebih dahulu. Dan beliau juga menshare pdf contoh artikel bebas momen spesial yang berjudul 80 Menit Di Kelas Neraka. Akhirnya diberi tambahan waktu menjadi 15 menit untuk menonton youtobe dan membaca artikel tersebut.

Dari hasil tontonan itu ada beberapa hal yang menjadi sangat penting dalam momen spesial. yaitu:

Makna Momen Special
  1. Momen Spesial adalah kejadian khusus yang terjadi dalam proses pembelajaran antara guru dengan siswa, baik dalam maupun luar kelas.
  2. Momen Spesial mempunyai potensi untuk masuk ke memori jangka panjang, tak terlupakan seumur hidup.
  3. Momen spesial meliputi : a). Perubahan motivasi : semua tidak minat menjadi berminat atau sebaliknya. b). Perubahan kemampuan: semua tidak mampu menjadi mampu atau sebaliknya. c). Perubahan sikap: semua tidak rajin menjadi rajin atau sebaliknya.

Proses Pembelajaran
  1. Pendahuluan
  2. Kegiatan Inti
  3. Penutup

Mengapa momen spesial harus ditulis?
  1. Pembaca tak akan lupa seumur hidup, sebab masuk memori jangka panjang.
  2. Potensi menjadi tulisan yang dibaca, dikenang, dibagi, dan dicari.
  3. Mudah ditulis artikel bebas tidak ketat aturan artikel ilmiah.
5 Momen Masuk Memori Jangka Panjang
  1. First Experiense : Apapun kejadian pengalaman pertama siswa akan masuk dalam memori jangka panjang.
  2. Relevance : Kejadian-kejadian berhubungan topik materi dengan kondisi siswa.
  3. Rehearsal: Kejadian yang diulang-ulang
  4. Emotional: Perasaan yang diaduk-aduk. Ada perasaan bahagia, takut, benci, panik, terkejut, dan lain-lain.
  5. Survival: Mengajar mengandung unsur bertahan dalam hidup untuk keselamatan hidup.
Tahapan Menulis Spesial Momen
  1. Catat/rekam kejadian; momen spesial pada saat terjadi jangan ditunda
  2. Elaborasi, mencari data-data pendukung momen spesial, data fakta, bertanya, imajinasi.
  3. Menulis dalam bentuk artikel bebas.

Dengan paparan tersebut diberikan sesi diskusi. Banyak pertanyaan yang muncul dari kami peserta belajar menulis gelombang 7. Berikut kesimpulan yang bisa saya buat:
  1. Cara mengajar sederhana agar siswa dapat memahami dan memperhatikan dengan jelas, akurat dan cepat . Yaitu : Pertama dalam mengajar sebaiknya diawali pendahuluan yang keren yang disebut apersepsi. Jika apersepsi berhasil, biasanya siswa tertarik untuk belajar, sehingga kemungkinan besar paham. Kedua adalah bagian penutup juga harus keren. Berupa kesimpulan tentang hikmah dari materi ajar. Ingat secara neurosains, awal dan akhir itu penting karena tercatat 80% diotak siswa. Ketiga baru memilih metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Center Learning).
  2. Beda antara guru keras dan guru tegas. Guru killer adalah sebutan untuk guru keras. Ciri-cirinya : Guru keras berdampak akan dijauhi, dihindari oleh siswa. Namun guru tegas sebaliknya, akan dirindukan oleh siswanya. Zaman sekarang siswa membutuhkan guru tegas. Kedisiplinan yang diterapkan oleh guru tegas akan menjadi unsur siswa suka kepada gurunya.
  3. Ada 3 cara sederaha menjadi guru tegas, yaitu : Pertama kita menjadi gurunya, orang yang memberikan ilmu. Kedua kita menjadi orangtuanya, kita memberikan nasehat-nasehat. Ketiga kita menjadi sahabat siswa, dengan membuka diri untuk menerima curhat dari siswanya. Hanya yang perlu diperhatikan adalah WAKTU. Kapan kita harus jadi guru, orangtua, dan sahabat siswa-siswa kita.
  4. Cara memotivasi guru lain untuk lebih inovatif dan menarik dalam mengajar yaitu memiliki sikap bijak terhadap teman-teman guru yang tidak kreatif, atau tidak mendukung usaha kita untuk kreatif, seperti kebiasaan menulis dan lain-lain. Sebenarnya sederhana. yaitu selalu share kepada mereka karya kita, meskipun itu hanya 2 lembar artikel. Lalu sampaikan pertanyaan kapan ya bisa dibalas juga dengan menunjukkan karya guru tersebut. Jangan bosan-bosan menunjukkan atau share karya klita. Seandainya itu tidak berhasil tidak usah terlalu dipikirkan sikap guru yang tidak mau berubah. Teruslah kita tetap kreatif. Jalan aja terus nanti hasilnya adalah informasi dari pihak ketiga, yaitu siswa kita. Jika ada siswa yang suka dengan cara menggajar kita mereka tertarik dan merindukan kita, itu saja cukup buat kita untuk modal bahwa kita sudah on the right track.
  5. Kepekaan terhadap momen spesial di kelas sangat berhubungan dengan potensi kecerdasan setiap siswa. terkadang dari momen spesial ini, siswa yang sebelumya pasif atau kita anggap tidak cerdas, tiba-tiba karena suatu hal dia akan berubah menjadi cerdas.
  6. Momen special merupakan jenis tulisannya adalah artikel bebas. Jadi tidak terikat dengan ketentuan artikel ilmiah. Karya tulis yang paling banyak dibaca adalah novel, karena mengandung unsur imajinasi yang memang disukai manusia. Novel adalah tulisan yang bersifat bebas.
  7. Dalam suatu tulisan menjadi inspirasi bagi pembacanya, lebih bagus dicantumkan nama siswa tersebut. Namun jika terdapat hal-hal yang privasi sebaiknya disamarkan.
  8. Dari sebuah kalimat momen spesial, bisa dapat dikembangkan menjadi beberapa paragraf, banyak cara yaitu dengan mengidentifikasi masalah apa, cari tahu penyebabnya, cari tahu tentang dampak jika masalah tidak selesai. dan hikmah kejadian itu apa.
  9. Cara menumbuhkan momen spesial demgan memperhatikan karakter negatif yang terjadi di kelas. Coba melatih bertanya kepada diri kita sendiri apakah ada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan kita, kemudian lanjutkan dengan pertanyaan kenapa?. Yang kedua apakah ada siswa yang membantah? kenapa? Percayalah kita lebih mudah mengamati karakter negatif daripada karakter positif siswa-siswa kitra. Momen negatif biasanya lebih banyak memunculkan pembelajaran buat kita. Seperti kata bijak : JANGAN TAKUT SALAH, SEBAB ITULAH JALAN UNTUK MENDAPATKAN KEBENARAN. Bahkan momen negatif lebih memberi muatan emosiaonal yang kuat. Hanya saja kejadian dan nama gunakan inisial.

Pembelajaran yang sangat luar biasa. Semua real terjadi dalam kehidupan kita sebagai guru.. Bahkan diantara kita juga pernah merasakan hal yang sama. Termasuk saya. Mengajar siswa dengan berbagai tingkah, kemampuan dan pemikiran yang berbeda. Tidak ada anak yang nakal yang ada adalah anak yang kebutuhannya belum terpenuhi. Kebutuhan apakah yang belum terpenuhi dari anak tersebut. Ketika kita melakukan pendekatan untuk cari tahu kebutuhan yang belum terpenuhi, maka si anak bandel itu punya perasaan bahwa dia ternyata diperhatikan. Dan gurunya berusaha untuk membantunya. dan mengajar, seni mengajar itu bukan bakat, tapi bisa dipelajari. Seperti mengajar agar siswa tertarik dimulai dengan apersepsi yang menarik.

Ayo kita jadikan kebiasaan sehat dengan latihan menulis. InsyaAllah nanti Allah memberi kemudahan kita menulisnya. Ingat dalam kerajinan kita menulis ada unsur kebiasaan. Tulis saja dulu, kualitas tulisan belakangan. kalau kita sudah mulai berani menulis itu adalah 80% keberhasilan sedangkan 20% adalah belajar memperbaiki tulisan kita.


Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri


Friday, April 3, 2020


Pengalamanku Menuju Tulisan


Sudah terlalu lama ingin bergabung dalam kegiatan menulis tetapi tidak mempunyai keberanian. Selain merasa penggunaan kata-kata yang kurang tepat, rasa minder juga menghampiri. Setiap kali ada informasi tentang menulis aku selalu KEPO. Ingin tau, tanya ini itu, tapi tetap tidak menulis . Hanya bergumam ooo begitu cara menulis. Banyak yang menyemangatkan diri untuk ikut dengan kata-kata sederhana. Bergabung aja dulu, liat-liat, baca-baca, nulis dikit-dikit tentang apapun itu.

Teringat olehku waktu libur lebaran kemaren. Aku mudik berkumpul bersama keluarga yang ku rindui. Ada seseorang yang sangat ku kenal. Beliau adalah ibuku. Beliau telah menghasilkan 4 buku. Dua buku pribadi dan dua buku antologi. Sebagai seorang penulis, ibu selalu menyarankan aku untuk menulis. Beliau berikan motivasi dengan dialeg melayu karena diriku dan ibuku dulunya tinggal ditanah melayu. Daerah yang berada berdekatan dengan negara Singgapura dan Malaysia. "Tulis aje tiap hari satu paragraf, besok tulis lagi dan seterusnye. Nanti you (panggilan ibu terhadap diriku kadang awak, you dan link) bace lagi pasti nanti dapat merevisi dengan sendirinya." Bahkan ada motivasinya yang sedikit menohok hati "Ibu sudah tua aje masih rajin menulis, you masih mude, kok malas." wow kalimat yang memanah menembus tepat kejantungku. Aku terdiam dan menyimpan rasa malu. Meskipun bidikan anak panah tetap di jantungku, aku masih saja belum bisa beranjak dari rasa takut dan minder untuk menulis. Dan akhirnya ku lupakan dan tidak peduli meski rasa sakit hati ada.

Suatu subuh ibu mengajakku jogging setelah sholat di mesjid. Beliau meminta ku untuk menemaninya mencari pemandangan yang bagus dan nantinya dijadikan bahan cerita olehnya. dengan senang hati ku menemani sambil sharing berbagai hal. Dan pastinya tidak ketinggalan tentang menulis. Begitu asyik bercerita tiba-tiba ibu berkata: "Wow, ini bagus link nanti akan ibu jadikan cover buku ibu yang akan segera dikirim kepenerbit." Sambil cekrek-cekrek menabadikan pemandangan yang indah pada gawainya. Selama kebersamaan tak pernah lepas ibu membicarakan tentang buku yang akan rilis. Tampak wajah kebahagiaan diwajahnya. Aku bangga padamu bu dan disudut hatiku berkata aku juga iri padamu.

Beberapa bulan kemudian ketika membuka FB laman yang pertama ku temui tentang informasi penyelenggaraan SAGUSABU (Satu Buku Satu Guru) yang akan diadakan bulan depan. Serrr rasa itu datang lagi. Tetap ku KEPO mencari tau bahkan dengan penasaran ku itu temanku menyarankan "Yuk ikutan yuk." Setelah dilihat jadwalnya ternyata akan menganggu waktuku mengajar. Ku urungkan niat dan ku katakan tidak bisa mengikutinya. Karena dihari itu aku mengajar. Sebenarnya itu alasan saja karena keberanianku belum ada. Seandainya aku benar-benar berkeinginan, pimpinan ku pasti memberi izin karena ilmu seperti itu tidak akan sering terjadi dalam waktu dekat.

Banyak kesempatan yang ku lepas begitu saja karena rasa takut dan minder yang berlebihan. Setelah SAGUSABU berlalu, masih melalui FB kembali ku membaca belajar menulis secara online dengan cara belajar menggunakan aplikasi WA. Kali pertama ku beranikan diri untuk mendaftar. Setelah dataku terkirim, admin yang memberitahu jika aku sudah siap akan segera dibimbing oleh pakar dalam menulis. Uhhh dagdigdung jantung ini berdegup lebih kencang dari biasanya. Seorang pakar menulis akan membimbingku. Seorang pakar akan mengetahui kebodohanku dalam menulis. Seorang pakar akan tau segala kekurangan ku. Itu kalimat yang berkecamuk dihati dan pikiranku. Tidak berani ku katakan YA. Ku biarkan saja pertanyaan kesediaan ku untuk belajar menulis. Kembali ku gagal melawan keetakutan dan rasa minder ku. Selang beberapa hari temanku menawarkan kembali bahwa ada belajar online melalui WA Grup, yang pesertanya nasional. Yang artinya bisa dari sabang sampai merauke. Belum sempat ku jawab, temanku sudah memasukkan ku bergabung pada grup tersebut. Entah kenapa brosur itu ku jadikan status di WA ku. Tak lama ada temanku bertanya akan hal itu yang menurutku dia berminat karena dibrosur itu tampak jelas satu tulisan yang siapapun yang ingin belajar menulis akan tergiur. Yaitu tulisan GRATIS. Maklum ya siapa sih yang tidak mau gratis termasuk diriku. Karena melihat keinginannya ku minta ia menyebarkan di grup sekolahnya. Mana tau ada yang ingin mengikuti juga biar ramai-ramai kita belajar. Ternyata benar ada 4 orang teman yang kukenal mendaftar untuk ikut belajar menulis online. Hatiku senang inilah awal keberanian ku muncul. Karena memiliki teman-teman yang sama sepertiku. Sama-sama pemula, sama-sama ingin belajar menulis, dan yang pasti sama-sama tertarik dengan kata Gratis. hahahaha.

Setelah sampai pada masanya tiba rasa antusiasku semakin mendalam. Disesi pertama sesuatu yang mengungah hatiku dengan tantangan menulis 3 alenia saja. Semua mengalir begitu saja. Tanpa memikir benar salah, letak tanda baca tepat atau tidak, kata ku: «hantam sajalah.» Yang penting aku sudah mencoba untuk ikut serta menulis. Alhamdulillah tidak ada celaan sedikit pun dari tulisan ku. Mungkin bukan tidak ada celanya tapi begitulah cara penggagas pelaksana kegiatan menulis belajar ini memancing aku untuk tetap menulis. Dibiarkan mengalir begitu saja, tanpa dikoreksi. Kata-kata penggagas tulis saja apa yang disukai dan kuasai dan nantikan apa yang akan terjadi di akhir kegiatan. Setelah selesai menulis cerita 3 alenia diakhiri dengan sesuatu yang langsung ku sadari ternyata menulis 3 alenia itu harus ada pendahuluan, isi dan penutup. Begitu cara penggagas memberi masukan dalam menulis. Karena masih awal, penggagas kegiatan ini memberi beberapa challange untuk menulis kembali 3 alenia dengan menampilkan beberapa gambar untuk dijadikan tilisan 3 alenia.Merasa tertantang kembali ku coba menulis. Menulis kali ini mencoba menerapkan ketentuan adanya pendahuluan pada alenia pertama, isi pada alenia kedua, dan penutup pada alenia ketiga. Pelan-pelan merubah semua yang kata-kataku hantam sajalah menjadi yang sesuai dengan yang diharapkan. akhirnya bisa kuterapkan dalam challenge yang diberikan. Waktu berjalan, pada hari-hari berikutnya aku terlena dengan belajar menulis dan menjadi sesuatu yang kusukai dalam menjalaninya. Meski banyak hambatan oleh jaringan yang tidak bersahabat, alhamdulillah sampai saat ini aku masih bersemangat belajar menulis.

Selama belajar menulis beberapa hari ini banyak sekali hal baru yang ku peroleh seperti Pentigraf, membuat dan menulis di Blog, Mengisi konten Youtobe yang sudah lama dibuat tapi tidak pandai menggunakannya, membangun Branding, aplikasi WebEx, aplikasi Zoom, cara menerbikan buku, motivasi untuk terus menulis, dan banyak lagi. Semuanya ku jalani dengan antusias dan bersemangat. Meski kadang ada rasa sedih dan kecewa dengan jaringan yang tidak mendukung.

Alhamdulillah dalam waktu kurang dari seminggu blog ku sudah menghasilkan 14 tulisan yang merupakan tugas dan challange dari penggagas kegiatan menulis yang sedang ku geluti ini. Tulisan Sang Pemula. Yang harus belajar banyak, membutukan bimbingan, dan motivasi. Semoga hari-hariku bisa intens menulis di blog dan apa yang ku tulis bisa memberi pengetahuan yang baru buat orang yang membaca dan memberi inspirasi serta motivasi bagi orang banyak.



Sang Pemula
Minim ilmunya
Besar penasarannya
Minim tulisannya
Besar semangatnya



Cerita Kucing Part 2

Si Empunya Jejak



Jejak langkahnya membuatku mengikuti kemana arah jejak itu berhenti. Dari teras rumah hingga ke halaman samping rumah. Yang ku temukan hanya sederetan semut nakal yang sedang menggotong sisa makanan menuju rumahnya. Jejak yang ku cari, tidak ku temukan sipemiliknya. Pencarianku terhenti.

Aku kembali kearah semula, masuk kerumah dan tak lupa menutup pintu. Hampir sampai dapur kudengar suara yang mungkin si empunya jejak. Ku berlari menuju arah suara yang seolah-olah sedang memanggilku. Begitu kucari arah suara itu, kembali tidak ku temukan. Rasa sedih menghantuiku karena sudah dua hari tidak bertemu.

Sore hari ketika ingin menyiram bunga, ada yang mengelus kakiku, terasa geli, dan ku terkejut. Saking terkejutnya, terdengar suara si empunya jejak. Si empunya jejak yang ku nanti-nanti dari pagi tadi kini hadir di depanku. PUSHY begitu ku menamainya. Kucing yang selalu meminta makan di pagi hari dan selalu menyisakan makanan untuk dibawa si semut nakal. Begitulah cara pushy berbagi.



Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri

Thursday, April 2, 2020

Resume 5


Mendesain Pembelajaran Jarak Jauh yang Efektif
Oleh
Indra Charismiadji



Pembelajaran kali ini tentang Mendesain Pembelajaran Jarak Jauh yang Efektif bersama Bapak Indra Charismiadji. Beliau seorang pemerhati dan praktisi pendidikan 4.0. Profesi beliau selain sebagai Direktur Eksekutif Center For Education Regulator and depelopmen Analysis (CERDAS), beliau juga Direktur Bidang pendidikan VOX Populi Institute Indonesia, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia (AGTIFINDO) dan Dewan pembina Ikatan Guru TIK PGRI.

Untuk mengikuti pembelajaran ini dibutuhkan aplikasi WebEx yang sudah diberikan OmJay sebelum pembelajaran dimulai. OmJay memberitahukan link aplikasi webex melalui HP harus di instal di Playstore sedangkan menggunakan Laptop atau PCS tidak perlu diinstal. Terus terang baru pertama kali saya mendengar kata WebEx. Sebelum pembelajaran dimulai saya menyempatkan diri googling tentang WebEx dan memperoleh beberapa informasi tentang WebEx sebagai berikut:
  1. WebEx lebih tepatnya Cisco WebEx adalah perusahaan Amerika yang mengembangkan dan menjual aplikasi konferensi web dan konferensi video. Memiliki kantor pusat di Milipitas, California. CEO: Chuck Robbin (26 Juli - sekarang). Pendiri : Subrah Iyar, Min Zhu. Anak perusahaan : WebEx EMEA, Presenter International,Inc.
  2. Pengertian WebEx adalah sebuah aplikasi online yang dikembangkan oleh Cisco yang membuat para pengguna saling berkolabolasi lewat gambar, video, dan suara dari mana pun secara lebih mudah.
  3. WebEx mengkombinasikan komunikasi lewat telepon dengan tampilan di layar komputer. Tidak perlu menghabiskan biaya untuk perjalanan dan melakukan pertemuan, cukup melalui penjelajahan Web di meja masing-masing dan lebih produktif dibandingkan mengirim file yang akan didiskusikan lewat email. Tidak ada perangkat keras yang harus dibeli, maupun perangkat lunak yang harus diunduh.
  4. Dengan aplikasi ini, baik perusahaan maupun pengguna perorangan bisa menggurangi biaya operasional dan membuat pekerjaan lebih efisien.
Ketika pembelajaran dimulai, saya sempat bergabung di WebEx bersama teman-teman yang lain, tapi masih tahap awal membahas penggunaan WebEx yang masih awam untuk beberapa peserta (termasuk saya) dan beberapa kendala pada signal. Belum sempat mendengar materi yang diberikan Pak Indra, jaringan online saya terputus. Kendala yang saya alami segera saya utarakan kepada OmJay. OmJay menyarankan agar mengulangi kembali dari awal. Walaupun itu sudah berulangkali saya lakukan tapi tetap saya coba dan coba lagi. Akhirnya ungkapan menyerah saya katakan pada OmJay. Tak lama OmJay mengirim http://news.detik.com/read/2020/04/01/124549/4960969/103/mengelola-pembejaran-daring-yang-efektif

Dari link yang diberikan OmJay sudah terangkum semua yang didiskusikan. Kesimpulannya fungsi guru di abad 21, dalam pembelajaran dibutuhkan pentingnya kolaborasi guru dan murid untuk memenuhi perubahan pembelajaran diera revolusi industri 4.0. Untuk memenuhi itu semua dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai dan tentunya diiringi kesejahteraan ekonomi masyarakat. Sehingga terbentuk how to learn bukan what to learn.




Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri


Wednesday, April 1, 2020

Resume 4 Pembuatan dan Penerbitan Buku Secara Indi

Belajar menulis sudah sampai pada pertemuan keempat. Kali ini akan disampaikan oleh Ibu Sri Sugiastuti dari Solo. Beliau seorang penggiat literasi nusantara, motivator, dan blogger. Sudah menulis 15 buku. Beliau juga penulis aktif di berbagai komunitas literasi. Saat ini beliau kepala SMK Tunas Pembangunan 2 Surakarta. Hobi beliau silaturahmi, traveling dan membaca.

Pembelajaran ini dilakukan secara diskusi dengan voice note. Diawal perkenalan beliau memberi link http://wp.me/f4fcvY-jW yang merupakan proses beliau menjadi seorang penulis. Sungguh pengalaman yang luar biasa yang saya rasakan setelah membacanya. Beliau hebat, beliau sabar, dan beliau orang yang pantang menyerah. Ada kalimat yang buat saya termotivasi dari ibu Sri "Berbagilah suka dukamu. Bila ada pengalaman buruk juga bagilah agar yang lain waspada dan tidak ada korban. Atau setidaknya bisa mengingatkan bahwa budaya baca itu penting." Yah benar, berbagi pengalaman buruk bukan berharap simpati dan kasihan cuma berbagi agar pembaca lebih waspada dan tidak mengalami hal yang sama. adapun tema belajar menulis ini adalah Pembuatan dan Penerbitan Buku Secara Indi

Berikut beberapa hasil diskusi yang dilakukan dalam pertemuan keempat ini:
  1. Seberapa penting menggunakan nama pena dalam buku?
  2. Jawaban : Nama pena adalah salah satu kenyamanan penulis itu sendiri, atau lebih percaya diri dengan mengunakan nama pena itu, atau tidak mau nama aslinya dikenal.
  3. Apakah ada batasan jumlah halaman baik fiksi maupun non fiksi untuk sebuah buku?
  4. Jawaban: Halaman yang bisa dinilai untuk angka kredit minimal 60 halaman. Tapi untuk buku lain yang tidak untuk dinilai kurang dari 60 halaman tidak masalah. Sesuai dengan apa yang kita tulis, kalau buku itu kita anggap cerita tuntas 100 halaman kita sampaikan 100 halaman. semua tergantung dari layoutnya.
  5. Bagaimana menulis buku best practice yang benar (sistematika)?
  6. Jawaban: Buku best practice itu sebenarnya pengalaman terbaik kita selama mengajar. Diawali dengan pendahuluan, bagaimana ingin mengajar dengan baik atau suatu penemuan yang dirasa bisa membuat anak-anak berhasil menguasai materi/pelajaran yang diajarkan.
  7. Bagaimana supaya keinginan untuk menulis itu muncul lagi?
  8. Jawaban: Banyak hal yang bisa membangkitkan gairah menulis lagi. Misalnya memori-memori yang terpendam itu ada kata kuncinya sehingga bisa menggunakan mapping bergerak dengan cepat.
  9. Bagaimana agar semangat itu tetap terjaga?
  10. Jawaban: Harus berkumpul pada orang yang satu passion yaitu suka menulis dengan saling mengingatkan atau pamer ( bukan riya) dan mempunyai target.
  11. Langkah-langkah atau tips agar buku yang kita buat bisa terbit?
  12. Jawaban: Menyiapkan referensi dan membuat kerangka dan dikerjakan satu persatu.
  13. Apakah modul pembelajaran bisa diterbitkan ditengah kebijakan sekolah elektronik masa kini?
  14. Jawaban: Tentu saja bisa. Dibuat dalam bentuk ebook agar mudah diunggah apalagi dalam situasi seperti ini.
  15. Buku seperti apa yang sebaiknya dibuat dari Buku diary yang pernah ditulis? apa biografi, kisah nyata, bentuk novel, atau yang lainnya?
  16. Jawaban : Buku harian bisa dijadikan buku memoar. Buku memoar itu berbeda dengan buku biografi. Tapi memang kisah nyata tapi tidak harus menuliskan semua kejadian yang dialami dari dulu hingga kini. Ambil apa saja yang berkesan dan memotivasi orang lain dan kira kira bisa menjadi teladan dan menjadi hikmah dari tulisan diari itu.
  17. Apa kelebihan dan kekurangan antara ebook dengan buku yang di cetak?
  18. Jawaban : Buku cetak lebih abadi bisa dibawa kemana saja dan bisa ditandai batas yang sudah dibaca. Membaca ebook lebih membuat mata lelah.
  19. Sebagai pemula untuk memulai menulis itu dimulai dari mana dulu ya?
  20. Jawaban: Memulai dari hal hal yang kecil yang disukai dan kuasai. 

Masih banyak lagi pertanyaan dari peserta dan semua jawaban dari ibu Sri sangat menginspirasi dan penuh dengan motivasi. Diakhir sesi beliau memotivasi kembali kepada peserta agar bersemangat menulis agar bisa menerbitkan buku. Setelah pembelajaran selesai bersama ibu Sri, Om Jay juga memotivasi peserta dengan kalimat sebagai berikut: "Semua tulisan yang luar biasa awalnya dari sebuah tulisan yang sangat sederhana karena kesederhanaan itu unik dan dan menarik. tulisan seperti itu justru banyak disukai para pembaca karena tulisan apa adanya."



Rosmalinda Aziz
SMPN 2 Kundur Barat
Karimun, Kepri